JOGJA – Produsen sepatu lokal Desle Shoes, baru mengumumkan pemenang lomba pembuatan logo baru. Hasilnya logo karya desainer asal Malang Jawa Timur, Zendytya Yudhana Hermadi, yang terpilih menjadi pemenang pertama.

Marketing Komunikasi Desle Shoes, Rahmat Suhada Fatony mengatakan selama setahun penyelenggaraan lomba desain logo Desle, terkumpul total 250 karya. Dari jumlah tersebut Desle memilih 20 karya terbaik. Untuk pemenang dipilih berdasarkan pilihan owner Desle Haryamto. “Yang dipilih melambangkan asal Desle, Depok Sleman, huruf s dan d kecil, yang berasal dari motif parang. Garis depan kecil itu melambangkan fleksibilitas dan belakang besar, menyiratkan kita ingin berkembang memberikan yang terbaik bagi konsumen,” ujarnya dalam pengumuman pemenang lomba Kamis (11/1).

Menurut Haryamto, desain logo yang dipilih adalah yang cocok diaplikasikan dalam sepatu. Logo Desle yang dipakai saat ini, jelas dia, sebenarnya masih layak tapi untuk diaplikasikan dalam sepatu dinilai sulit. Untuk itu desain logo yang dipilih yang mudah dikenal hingga beberapa tahun kedepan. “Hanya dengan melihat logonya saja sudah tahu itu produk Desle,” tuturnya.

Diakuinya dari hasil evaluasi yang dilakukan bersama tim produksi, disimpulkan logo Desle sebelumnya sulit untuk diaplikasikan dalam sepatu. Logo sebelumnya masih berupa tulisan ‘Desle’. Meskipun begitu hasil lomba desain logo Desle tersebut belum tentu akan langsung ditempelkan dalam produksi Desle teranyar. “Yang jelas untuk produk selalu kami berikan yang terbaik,” tuturnya.

Rahmat menambahkan produk sepatu dari Depok Sleman itu menginginkan logo sepatu yang aplikatif dan adaptif untuk era kedepan. Logo yang nantinya dipilih juga harus bisa dipasang di sepatu sport dan casual, yang diproduksi Desle selama ini. “Selain pembenahan kualitas juga dibarengi dengan logo baru,” ujarnya.

Saat ini meski merupakan produk lokal, Rahmat mengklaim produknya bisa bersaing dengan sepatu luar negeri maupun sepatu bajakan. Tanpa menyebut jumlah pastinya, Rahmat mengatakan selama 2017 lalu produksi sepatu Desle di DIJ naik hingga 10-15 persen, sedang di wilayah
Jawa Tengah kenaikan lebih dari 20 persen. Paling banyak memang dari sekolah. “Seperti di Kebumen 90 persen siswanya menggunakan sepatu Desle, imbal baliknya kita adakan pentas seni di sekolah,” tuturnya. (pra/ong)