JOGJA – Kebijakan lima hari sekolah yang mulai diterapkan di sekolah DIJ ditengarai berpotensi menimbulkan kerawanan baru bagi pelajar.

Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) DIJ Sari Murti khawatir, waktu libur dua hari, Sabtu-Minggu, akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjerumuskan para pelajar ke dunia prostitusi.

Di Jawa Tengah, misalnya. Menurut Sari, ada gejala anak perempuan usia sekolah ditawari untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil (PSK). Mirisnya, mereka menerima tawaran tersebut karena tergiur iming-iming uang. “Makanya Pemprov DIJ harus mewaspadai masalah itu,” ingatnya Selasa (9/1).

Dikatakan, orang tua siswa wajib memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Supaya anak tidak mudah terpengaruh bujuk rayu tindakan negatif. Apalagi DIJ merupakan kawasan wisata. Sehingga bukan tidak mungkin DIJ bisa menjadi celah bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan para pelajar terjun ke dunua prostitusi.

Prostitusi dikalangan pelajar, ungkap Sari, cukup rentan terjadi pada anak usia 14-15 tahun. Atau sejak pelajar duduk di bangku SMP. Pada usia tersebut anak-anak sedang dalam masa berkembang dan mencari identitas. Sementara bagi para pria hidung belang, usia belia gadis usia sekolah memiliki nilai lebih. “Anak yang masuk usia berkembang rasa ingin tahunya cukup besar. Mereka juga masuk dalam masa-masa ingin bergaya dan punya keinginan fesyen yang tinggi. Juga ingin memiliki handphone. Inilah yang menjadi celah orang-orang tak bertanggung jawab itu,” paparnya.

Anak-anak dari keluarga menengah ke bawah paling rentan. Menurut Sari, mereka paling banyak diincar mucikari dan pria hidung belang. Namun, bukan tidak mungkin anak dari keluarga berada yang tergiur iming-iming pria hidung belang, sehingga terjerumus jurang prostitusi. Anak-anak ini biasanya minim mendapatkan perhatian dari orang tua.

“Sekarang ini kan apa saja bisa masuk. Bisa jadi awal perkenalannya melalui media sosial (medsos),” jelasnya.

Sebagai bentengnya, Sari mengajak seluruh elemen sekolah dan orang tua siswa untuk saling bersinergi. Bersama-sama melakukan langkah pencegahan. Tujuan pemberlakuan lima hari sekolah harus benar-benar direalisasikan. Dengan begitu anak tidak mudah terjerumus hal-hal negatif sebagai dampak waktu libur yang lebih panjang. “Lima hari sekolah kan dimaksudkan untuk membangun relasi komunikasi antara orang tua dan siswa. Ini harus benar-benar direalisasikan,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pumuda dan Olahraga DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, hingga kemarin belum ada kajian pasti terkait dampak penerapan lima hari sekolah dengan permasalahan sosial yang akan ditimbulkan. Khususnya prostitusi. Meski begitu, hal itu menjadi perhatian serius Aji. Apalagi jika ke depan persoalan tersebut benar-benar terjadi di DIJ.

“Masukan itu tentu akan diperhatikan untuk tindakan antisipasi,” ujar Aji.

Lebih lanjut Aji menjelaskan, penerapan lima hari sekolah tidak serta merta memangkas waktu sekolah menjadi dari Senin hingga Jumat. Sekolah masih bisa mengisi hari Sabtu dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat. Seperti pendidikan karakter, kerohanian, bakti sosial, atau olahraga.

Sementara Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto justru menilai program lima hari sekolah merupakan kebijakan yang tepat. Alasannya, dengan dua hari waktu libur hubungan siswa dan orang tua masing-masing bisa lebih dekat.

“Orang tua bisa mengetahui persoalan-persoalan anak selama masa liburan. Dengan libur dua hari, kualitas kebersamaan dengan orangtua menjadi lebih baik,” tuturnya.

Kendati demikian, Arif menekankan pentingnya peran aktif sekolah dan orang tua siswa dalam memberikan pengawasan terhadap anak untuk menangkis hal-hal negatif. (bhn/yog/mg1)