KULONPROGO – Pengelolaan pariwisata berbasis komunitas harus diperkuat. Tatakelola pariwisata harus dikembangkan secara professional.

Persaingan tidak sehat antarpengelola harus dihindari. Sehingga peningkatan taraf hidup masyarakat bisa tercapai.

Demikian ditegaskan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulonprogo Langgeng Agus Basuki Rabu (10/1). “Kami sudah berkomunikasi dan berdiskusi dengan Dinas Pariwisata Kulonprogo untuk menerapkan langkah tersebut,” katanya.

Menurut dia, pengembangan pariwisata berbasis komunitas harus diterapkan. Hal itu untuk mewujudkan pengelolaan pariwisata yang baik.

Apalagi Kulonprogo akan menjadi jujukan wisatawan asing. Karena bakal segera beroperasinya bandara berkelas internasional, New Yogyakarta International Airport (NYIA).

“Tatakelola pariwisata Kulonprogo masih perlu diperbaiki. Masih ada persaingan tidak sehat pengelola wisata,” kata Langgeng Agus Basuki.

Misalnya, di satu objek wisata ada beberapa kelompok. “Masing-masing mengarahkan wisatawan untuk tidak ke objek tertentu. Itu persaingan tidak sehat,” ujarnya.

Pemerintah bertugas melakukan perbaikan pengelolaan wisata. Namun peran masyarakat tidak boleh diabaikan. Diskusi dan sinkronisasi harus dilakukan.

“Kuncinya, jangan sampai uang yang dikeluarkan pengunjung tidak bermanfaat bagi masyarakat. Jangan sampai hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Mungkin tidak terlihat ada gesekan, tapi harus diwaspadai,” kata Langgeng Agus Basuki.

Pengembangan wisata berbasis komunitas salah satunya meminimalisasi pembangunan hotel di Kulonprogo. Rumah warga bisa dijadikan homestay yang representatif.

“Tahun ini kami sepakat menggarap Nglinggo, Tritis, Suroloyo, Sermo dan objek wisata sekitar calon lokasi New Yogyakarta International Airport (NYIA),” kata Langgeng Agus Basuki.

Ketua Pokdarwis Kalibiru Sumarjono mengatakan pengelola Kalibiru berkoordinasi dengan berbagai elemen. Sehingga tidak muncul kecemburuan sosial yang merugikan.

“Memang di antara empat kelompok jeep sering ada perselisihan. Tetapi pengelola selalu sigap untuk mencari jalan keluar terbaik. Pengelola wisata tidak kaku. Komunikasi dan kebersamaan dikedepankan,” ungkap Sumarjono. (tom/iwa/mg1)