Dalam diskusi wirausaha itu, Kaesang mengajak ibu rumah tangga melalui masakan rumahannya untuk dijual dalam aplikasi buatannya. “Ya, saya belum sukses,” jawab Kaesang saat ditanya tips-tips bisnisnya.

Tapi ia memberanikan diri tampil di depan ibu-ibu karena sekaligus mempromosikan aplikasi “Madhang” yang dikembangkannya. Kaesang ingin mengajak ibu rumah tangga yang bisa memasak untuk bergabung sebagai mitra usaha.

Menurut dia, alasan pemilihan menu makanan rumahan yang dimasak ibu-ibu rumah tangga, karena mayoritas orang menganggap makanan terenak adalah masakan rumahan yang dibuat oleh ibu. Meskipun begitu, ternyata Kaesang mengaku bukan termasuk penggemar makanan rumahan, terutama yang dimasak ibunya, Iriana.

“Sekitar 90 persen orang ketika ditanya menjawab paling enak masakan rumahan. Tapi saya masuk yang 10 persen, masakan ibu saya kurang enak,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Tapi Kaesang tetap ingin mengajak agar yang 90 persen suka rasa masakan rumahan itu juga bisa dinikmati orang lain. “Kalau anak di rumah tidak mau makan, ya dijual di sini saja,” tambahnya, kalem.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) yang kemarin merelakan diri menjadi moderator acara ini, mengatakan, saat ini untuk berdagang tidak harus punya warung. Di rumah saja dengan mengandalkan aplikasi dalam handphone juga bisa menghasilkan uang.

Untuk bisnis kuliner, HS mengatakan kuncinya hanya rasa yang enak. “Tambahannya dengan pengemasan yang baik, tidak dibungkus kresek hitam untuk di-uploud dengan foto yang baik,” pesannya.

Wali kota menyebut, pemanfaatan aplikasi untuk menjual prouk memiliki banyak kelebihan. Seperti tidak ada jarak antara penjual dan pembeli. Hal itu juga untuk tambahan aktivitas yang produktif bagi ibu rumah tangga, yang bisa dikerjakan di rumah.

“Barang yang dijual juga bisa langsung dikirim melalui kurir. Tidak perlu keluar rumah tapi ada pendapatan,” ujar wali kota dua periode ini.

Sementara Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil DinasKUKM-Nakertrans JogjaTriKaryadiRiyanto menambahkan, untuk pemanfaatan aplikasi sebenarnya sudah mulai dikenalkan kepada pelaku UMK di Kota Jogja. Selain cara mengunggah, juga tampilan dalam bentuk foto yang menarik. “Tidak sekadar diunggah, tapi juga bisa menarik orang yang melihatnya,” kata Tri. (laz/mg1)