JOGJA – Penataan pedestrian Malioboro mulai dari depan Pasar Beringharjo hingga Jalan Pangurakan selesai dilakukan. Kini, masyarakat bisa menikmati kawasan Titik Nol Kilometer dengan nuansa baru.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X menandai pencanangan pedestrian dengan melakukan peninjauan lokasi. HB X memulai peninjauan dengan berjalan dari Pasar Beringharjo hingga bekas Gedung KONI DIJ. Sesampainya di Titik Nol Jogja, HB X menyempatkan duduk di bangku kayu yang tersedia, ditemani Wakapolda DIJ Kombes Pol Teguh Sarwono. Turut serta pula Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, Sekprov DIJ Gatot Saptadi, dan anggota Komisi A DPRD DIJ Arif Noor Hartanto.

Selain merasakan bangku kayu, HB X melihat ikon titik nol lain lainnya, berupa simbol gunungan yang terdapat di lantai. HB X sempat memperhatikan saksama simbol dalam lingkaran yang tersusun dari bongkahan marmer.

“Penataan Malioboro ini nantinya memperlihatkan wajah baru yang memperlihatkan simbol budaya Jogja,” ujar HB X Selasa (9/1).

HB X menargetkan revitalisasi bisa rampung 2019 mendatang. Setelah revitalisasi pedestrian selatan Pasar Beringharjo hingga Jalan Pangarukan selesai, proses selanjutnya melakukan revitalisasi sisi barat. Yakni mulai dari kawasan Stasiun Tugu, termasuk pembangunan bangunan bekas Bioskop Indra yang akan digunakan bagi para UKM.

“Dengan selesainya revitalisasi, harapannya Malioboro sebagai salah satu ikon Jogja, bisa membawa pesan yang baik,” kata HB X dalam peresmian revitalisasi tahap II.

Setelah revitalisasi pedestrian Stasiun Tugu dan pembangunan bekas Bioskop Indra selesai, pemerintah daerah berencana melakukan pengaturan terhadap fasad yang ada di sepanjang Jalan Malioboro.

Diakui HB X, bangunan yang ada di kawasan Malioboro hampir tidak tampak bila memiliki unsur heritage. Sebab hampir sebagian besar bangunan yang ada di sisi barat, kini digunakan untuk tempat berjualan.

“Kewajiban pemkot untuk menjaga nilai-nilai heritage bangunan itu,” imbaunya.

HB X berharap, nama toko yang dipampang di bangunan heritage nantinya tidak menutupi fasad. Dia mengusukan agar nama toko yang selama ini berada di bagian atas fasad, bisa diubah ke tempat yang semestinya.

“Nama toko jangan terlalu besar karena menutupi bangunan, baiknya diletakkan agak ke bawah,” imbau HB X.

Persoalan lain dalam mempercantik perwajahan Malioboro, menurut HB X, adalah keberadaan peti pedagang yang tidak diletakkan pada tempatnya. Keberadaan peti-peti PKL tersebut, mengotori perwajahan Malioboro. Maka dari itu, HB X memberikan solusi untuk mencarikan gedung yang nantikan dapat digunakan untuk menyimpan barang-barang milik pedagang.
“Saya dengar ada salah satu toko yang mau dijual. Kalau Pemprov bisa beli ada baiknya gedung itu dijadikan loker untuk menyimpan barang pedagang. Jadi nggak perlu lagi menggunakan peti,” ujarnya.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Muhammad Mansyur menjelaskan, revitalisasi tahap kedua yang dimulai sejak Maret 2017 menghabiskan anggaran Rp 17,3 miliar. “Durasi waktu delapan bulan. Tepat waktu,” jelasnya.

Tahun ini, revitalisasi dilanjutkan dengan penyelesaian pedestrian sisi barat, dari rel kereta api hingga Ngejaman. “Termasuk di dalamnya Bioskop Indra yang akan dibangun menjadi tiga lantai,” terangnya.

Anggaran yang digunakan untuk revitalisasi tahap selanjutnya menghabiskan anggaran sekitar Rp 75 miliar. Jumlah anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun bekas Bioskop Indra dan pembangunan revitalisasi pedestrian sisi barat.

Sementara itu, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti meminta kepada Pemprov DIJ untuk memberikan kepastian petugas yang berjaga di kawasan Malioboro. Dia juga berharap, agar dana keistimewaan (danais) nantinya bisa dikucurkan untuk perawatan kawasan pedestrian tersebut. (bhn/ila/mg1)