BANTUL – Program Upaya Khusus (Upsus) yang digulirkan pemerintah pusat menunjukkan hasil positif. Tidak hanya skala nasional, program yang dimotori Kementerian Pertanian (Kementan) ini juga merangsang produktivitas padi di Kabupaten Bantul naik drastis bahkan surplus.

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan Muhammad Syakir menyebut produksi nasional gabah kering mencapai enam juta ton. Atau setara dengan beras tiga juta ton. Padahal, kebutuhan beras nasional sekitar 2,6 juta ton beras. “Sehingga surplus,” jelas Syakir usai panen raya padi di Bulak Samben, Argomulyo, Sedayu, baru-baru ini Senin (8/1).

Syakir menyebut ada serangkaian penanganan dalam program Upsus. Mulai penerapan teknologi tanam jajar legowo, pemilihan varietas benih unggulan seperti inpari 30 dan ciherang. Juga, pemberian bantuan alat mesin pertanian berteknologi canggih hingga asuransi pertanian.

“Dengan Upsus ini luas tanam (nasional) menjadi 1,1 juta hektare,” sebutnya.

Kendati begitu, Syakir juga tidak menampik peran sejumlah elemen seperti pemerintah daerah dan TNI dalam mewujudkan swasembada pangan. Tidak terkecuali di DIJ. “Tiada hari tanpa panen terwujud,” ujarnya.

Selain di Bulak Samben, rombongan Kementan kemarin juga roadshow panen raya di wilayah Pundong.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Dipertautkan) Pulung Haryadi mengakui program Upsus punya andil besar membantu swasembada di Kabupaten Bantul. Pada masa panen Desember tahun lalu, misalnya, menghasilkan 10.170 ton beras. Hasil panen ini dari lahan seluas 2.506 hektare.

“Pada bulan ini ada panen lagi seluas 1.510 hektare. Padahal, paradigma lama bulan-bulan ini paceklik,” sebutnya.

Dengan produktivitas panen yang melimpah ini, Pulung mengklaim mampu mencukupi kebutuhan pangan seluruh warga Bumi Projo Tamansari. Merujuk data Dipertautkan, kebutuhan konsumsi seluruh penduduk yang berjumlah 937.600 jiwa mencapai 6.739 ton per bulan. “Sehingga bulan ini suprlus 3.431 ton,” ungkapnya. (zam/din/mg1)