BANTUL – Sikap positif ditunjukkan warga sekitar objek wisata (obwis) hutan Pinus Mangunan. Warga di sepanjang jalan menuju obwis itu secara swadaya memasang beragam rambu-rambu lalu lintas. Ini mereka lakukan karena Jalan Mangunan-Imogiri termasuk jalur rawan kecelakaan. Bahkan dikenal sebagai jalur tengkorak. Parahnya lagi, di lokasi ini juga minim rambu-rambu lalu lintas.

Suratman, warga Dusun Banyusumurup, Girerejo, Imogiri mengungkapkan, pemasangan rambu-rambu atas keinginan warga sendiri. Mereka merasa keberadaan wisatawan membawa efek positif bagi perekonomian warga. “Sehingga warga ikut merasa memiliki (obwis),” jelas Suratman di kantornya, Senin (8/1).

Rambu-rambu yang terpasang di beberapa titik rawan ini berbeda dengan papan peringatan milik Dinas Perhubungan. Kendati begitu, rambu berupa spanduk ini berisi aneka pesan yang menggelitik. Contohnya, “Pelan-Pelan, Aku Masih Sayang Padamu”. Ada lagi yang bertuliskan,”Sabar Pir. Ojo Dhisiki“. “Semoga ke depan ada rambu-rambu permanen,” harapnya.

Ketua Koperasi Notowono Purwo Harsono mengakui pemasangan rambu-rambu murni swadaya masyarakat. Tanpa campur tangan koperasi yang notabene menaungi mayoritas obwis di wilayah Dlingo ini. Karena itu, Ipung, sapaannya, mengapresiasi kekompakan warga. “Rambu-rambu ini memang perlu untuk menekan angka kasus kecelakaan,” ucapnya.

Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo memperkirakan tingkat kunjungan di Kabupaten Bantul sepanjang 2017 mencapai 6,5 juta orang. Ini meningkat dibanding pada 2016 yang mencapai 6 juta wisatawan. Dari jumlah itu, 2 juta di antaranya melancong ke wilayah Dlingo.
Kendati begitu, Kwintarto mencatat, tingginya tingkat kunjungan di Dlingo ini baru mampu mengungkit perekonomian 10 persen masyarakat. “Kuliner dan kerajinan di sana masih belum banyak,” sebutnya.

Karena itu, Kwintarto berharap pengelolaan obwis berbasis community base tourismseperti yang diterapkan Koperasi Notowono lebih mampu mengangkat perekonomian warga. (zam/din/mg1)