Ribuan guru ngaji dari level terendah di musala-musala kecil hingga pondok pesantren ada di Purworejo. Di tangan merekalah anak-anak berlatih memperdalam ilmu agama, walaupun masih sekadar memberikan pengajaran atau mengenalkan huruf hijaiyah.

Namun di luar itu, mereka juga memberikan banyak bekal agama kepada anak-anak didik yang sebagian besar orang-orang di lingkungannya. Pembiasan-pembiasaan baik terus diberikan dengan harapan akan terus terbawa hingga anak dewasa.

Dilakoni tanpa mengharapkan imbalan, ada beberapa Tempat Pendidikan Quran (TPQ) yang mengajak anak berderma, walaupun intensitasnya sangat rendah. Bukan untuk guru-guru ngaji, tetapi dikembalikan ke anak melalui buku-buku agama baik Iqro maupun Quran, atau sekadar seragam ngaji.

Menjadi sebuah anugerah tersendiri bagi para guru ngaji, baik yang ada di madrasah diniyah, pondok pesantren, TPQ ataupun majelis taklim, saat Pemkab Purworejo memberikan uang insentif senilai Rp 125 ribu per bulan dan diberikan tiga bulan sekali. Ditilik secara nilai memang tidak banyak, namun hal ini layak disyukuri sebagai bentuk apresiasi pemerintah.

“Kalau dikatakan sebanding dengan guru-guru PAUD, kami ya nggak sama. Memang kami sempat iri, mereka dapat sementara kami tidak. Tapi itu selalu kita pupus, karena apa yang kita lakukan ini bentuk ibadah, panggilan hati untuk mengajak di jalan kebenaran,” kata Khusnul Khotimah, guru ngaji di TPQ Miftahul Ulub RT 3 RW 3 Desa Dewi, Kecamatan Bayan, di sela penyerahan insentif bagi guru ngaji oleh Bupati
Agus Bastian di Pendopo Rumah Dinas, Senin (8/1).

Dikatakan, selama ini ada tiga guru ngaji di lembaga itu. Selain dirinya masih ada Tri Mulyani, 45, dan Ani Supriyati 49 yang menjadi tenaga tetap. Memiliki 54 santri cilik, ketiganya berhak mendapatkan insentif karena batas minimal seorang guru ngaji adalah mengampu 15 anak.

“TPQ yang kami kelola sudah ada sejak 2008, tapi tidak lama kemudian vakum dan mulai dibangkitkan lagi sekitar tahun 2011 dan berjalan sampai sekarang. Anak-anak yang mengaji juga sebatas di lingkungan sekitar,” tambahnya.

Soal suka duka, Khusnul yang asli Kecamatan Bruno ini mengatakan karena didasari rasa ikhlas semuanya menjadi suka. Rasa itu semakin membuncah saat anak-anak didikannya menyelesaikan penguasaan Quran yang ditandai dengan khataman.

“Melihat anak-anak tampil di panggung saat khataman itu menjadi sebuah kebanggaan bagi saya. Saya sampai meneteskan air mata kalau sudah seperti itu. Ternyata anak-anak dari berbagai latar belakang itu tetap bisa mengaji dari tangan saya ini,” tambah ibu tiga anak ini.

Diungkapkan, pola pengajaran mengaji saat ini dibandingkan dulu kalah jauh berbeda. Dahulu sah-sah saja seorang guru ngaji bersikap keras terhadap anak. Namun hal ini tidak bisa diterapkan saat ini.

“Dulu bapak saya kalau ngajari itu cukup keras. Kalau memang tidak bisa bisa dilecut beneran. Tapi apakah sekarang bisa, tentu tidak bisa. Bisa-bisa anak-anak tidak ada yang mengaji lagi,” katanya.

Kabag Kesra Setda Purworejo Bambang Sadyo Hastono mengungkapkan, pemberian insentif ini merupakan bentuk perhatian dari bupati untuk guru-guru ngaji yang telah memberikan waktu dan tenaganya bagi anak-anak.

Masuk dalam anggaran perubahan tahun 2017, dana bantuan hibah insentif senilai Rp 927.000.000 dan diberikan kepada 2.409 ngaji ke rekening masing-masing. Masing-masing guru ngaji setelah dipotong PPH Perorangan, menerima Rp 352.500 per tiga bulan sekali.

Sedangkan, untuk tahun 2018, telah teranggarkan sejumlah Rp. 4.470.000.000,- bagi 2.980 orang guru ngaji. Yang terdiri atas guru ngaji ponpes, guru ngaji madrasah diniyah, guru ngaji TPQ dan guru ngaji ta’lim se-Kabupaten Purworejo.

Bupati Agus Bastian sebelum memberikan insentif secara simbolis meminta agar nilai yang ada jangan dilihat nominalnya. Menurutnya, pengabdian yang telah dilakukan para guru ngaji tidak bisa dinilai dengan materi, berapa pun besarnya.

“Guru ngaji merupakan profesi yang luhur dan sangat berjasa dalam melestarikan ayat-ayat Allah serta membangun akhlaqul karimah,” ujar bupati. (laz/mg1)