Sejak 2005, masyarakat Karangtengah bersama pemerintah desa setempat dan Kecamatan Imogiri, konsisten mengelola objek wisata edukasi budidaya ulat sutera. Kawasan tersebut dibangun di atas tanah perbukitan seluas 60 hektare yang merupakan milik Keraton Kasultanan Jogja.

Objek wisata edukasi itu, tepatnya berada di kaki bukit Karangtengah, Dusun Mojolegi, sekitar 2 km dari Makam Raja Imogiri. “Di sini, wisatawan bisa menikmati buah jambu mete dan melihat bagaimana proses budidaya ulat sutera,” kata Pargiyanto, pengelola Desa Wisata Karangtengah.

Agar tanaman pohon mete dan budidaya ulat sutera dapat mengangkat ekonomi warga, setiap kepala keluarga diberikan tanggung jawab mengelola lahan pohon jambu mete seluas 2.000 meter persegi. “Buahnya biss dijual, biji metenya juga bernilai tinggi. Demikian pula ulat suteranya dapat dijual ke pengepul untuk dibuat sebagai bahan dasar kain sutera,” tandas Pargiyanto.

Untuk mendukung keberadaan wisata edukasi tersebut, pemerintah desa mengajak warga setempat membuka homestay. Sehingga, wisatawan asing dan lokal yang berasal dari luar Jogja, dapat menginap di rumah-rumah warga.

“Kami juga menawarkan wisata pembuatan kerajinan keris, dan outbound,” jelasnya. (mar/jko/mg1)