GUNUNGKIDUL – Bencana yang disebabkan Siklon Cempaka pada 28 November menjadi bukti Guungkidul juga rawan banjir. Kondisi itu disikapi Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari dengan program pelestarian alam.

“Kami menanggulangi banjir dengan gerakan pelestarian luweng di sejumlah lokasi,” kata Romo Rosarius Sapto Nugroho Pr Senin (8/1).

Luweng adalah tempat resapan air alamiah. Merupakan salah satu sistem alam yang manfaatnya tidak banyak diketahui masyarakat. Banyak luweng beralih fungsi.

“Kami menemukan banyak luweng menjadi tempat pembuangan sampah. Ini yang menyebabkan sistem alam air ke perut bumi tidak lancar,” ungkap Sapto Nugroho.

Padahal luweng efektif menyerap air. Bersama relawan tim kerja pelayanan kemasyarakatan Paroki Wonosari gencar bekerjasama dengan masyarakat menggagas pelestarian luweng.

“Salah satu pekerjaan pembangunan luweng sudah digagas gereja paroki tertua di Gunungkidul di Padukuhan Blekonang, Desa Tepus,” ungkap Sapto Nugroho.

Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat berbagai usia. Luweng tersebut ditemukan saat hujan lebat. Air menggenangi tujuh rumah warga selama hampir empat hari pada awal Desember 2017.

“Luweng yang tertutup sampah dan tanah ditemukan. Akhirnya mampu menampung genangan air yang semula membanjiri tujuh rumah warga setinggi hampir 1,5 meter,” ujarnya.

Kata dia, gerakan pelestarian luweng juga akan dilakukan di Padukuhan Kuwon Kidul, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Sejumlah tokoh masyarakat dan aparat desa telah membahas dan menyusun kebutuhan material untuk segera direalisasikan bulan ini.

Tim Kerja Pelayanan Kemasyarakatan Paroki Wonosari Endro Tri Guntoro mengatakan gereja memiliki gerakan menjaga bumi. Merawat ciptaan Tuhan, termasuk luweng, karst, gunung, hutan, kualitas udara dan air. (gun/iwa/mg1)