JOGJA – Kondisi Monumen PSSI di kompleks Wisma PSIM Jogja memprihatinkan. Plafon dan eternit teras depan jebol. Beberapa kaca di bangunan lawas tempat lahirnya PSSI itu juga bolong-bolong. Namun Asprov PSSI DIJ belum bisa memastikan apakah membawa permasalahan ini ke dalam Kongres PSSI 13 Januari mendatang.

Ketum Asprov PSSI DIJ Bambang Giri Dwi Kuncoro mengatakan, Asprov masih melakukan penelaahan atas status aset tersebut. Apakah milik PSSI atau PSIM. Sebelum hal itu terang benderang, PSSI pusat kemungkinan juga akan meminta kejelasan kepada Asprov.

“Kami masih bahas secara internal dulu. Exco kami Pak Sigit tengah menelusuri status tanah dan aset yang dimiliki PSSI atas monument itu. Baru kalau nanti sudah ada kejelasan, kami akan usulkan ke PSSI untuk bisa mendapatkan dukungan,” ungkap Bambang kepada wartawan.

Belum jelasnya terkait aset ini menyebabkan tidak adanya anggaran untuk merawat bangunan yang sangat bersejarah tersebut. Termasuk wacana menjadikan kompleks bangunan ini sebagai museum sepak bola. Pihak Asprov masih terus melakukan kajian wacana tersebut.

Kendati demikian, bukan berarti tidak ada hal yang akan diusulkan Asprov dalam kongres tahunan PSSI itu. Jika nantinya berangkat secara langsung untuk mengikuti kongres, pria yang akrab disapa Bakun ini mengaku telah memiliki sejumlah masukan bagi PSSI.

Di antaranya perbaikan pola tertib administrasi dalam sebuah organisasi. Selain itu, juga masukan untuk memaksimalkan pembinaan sepak bola usia dini dan sepakbola wanita.

Menurut pria yang juga Direktur Pemasaran Bank BPD DIY ini, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia banyak dilaksanakan turnamen kelompok umur. Namun dalam perkembangan, tidak ada langkah lanjutan yang berjenjang dari PSSI sepak bola usia muda.

“Apakah ada program khusus PSSI atau kembali diserahkan ke klub masing-masing. Harusnya, ke depan ada kelanjutannya bagi pesepakbola potensial usia dini itu. Selain sepak bola usia dini, masalah sepak bola wanita juga harus lebih dimaksimalkan,” harapnya. (riz/laz/mg1)