BANTUL – Pengelola Taman Hiburan Rakyat (THR) Gabusan Square terus memutar otak. Mempersiapkan berbagai konsep baru. Itu bertujuan agar salah satu tempat hiburan baru yang terletak di Jalan Parangtritis KM 9,5 ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pentas dangdut. Lebih dari itu, sebagai wisata budaya.

“Dangdut hanya bagian kecil,” jelas salah satu pengelola THR Gabusan Square Wahyana Giri di THR Gabusan Square, Minggu (7/1).

Dia menyebutkan, porsi pentas dangdut hanya tiga jam. Mulai pukul 21.00 hingga pukul 24.00. Itu pun tidak saban hari. Pengelola juga memberikan ruang bagi pentas campursari dan koes plus-an. Kendati begitu, Giri, sapaannya, mengapresiasi kritikan terhadap penampilan para penyanyi dangdut. Toh, pengelola mulai 2018 telah mengantongi delapan grup orkes melayu sebagai pengisi rutin di THR Gabusan Square. “Ada 19 grup yang ikut seleksi,” sebutnya.

Dengan jadwal rutin ini, Giri mengklaim penampilan para penyanyi dangdut bakal lebih terkontrol. Tidak ada lagi penyanyi dengan pakaian dan gaya seronok. Mengingat, yang dijual di THR bukan sensualitas penyanyi. Melainkan suaranya.

Selain serangkaian pementasan rutin, pengelola sedang merancang agenda kesenian lain. Di antaranya, festival hadrah, festival gejok lesung, dan festival jathilan. “Karena konsepnya wisata budaya,” ucapnya.

Diakui, membangun THR Gabusan Square bukan perkara mudah. Giri bercerita, sering diajak mendirikan sekaligus mengelola usaha milik pemkab. Tak terkecuali restoran yang dikelola PD Aneka Dharma di bawah jajaran direksi lama.

Hanya, berbagai jenis usaha yang dibiayai APBD ini kerap gagal. Karena itu, Giri antusias dengan capaian THR Gabusan Square. Meski baru seumur jagung. Apalagi, lokasi THR berada di depan restoran yang notabene pernah dikelolanya.

“Restoran ini pernah dimodali (APBD) Rp 1,4 miliar. Tapi gagal dan tak berbekas,” ujarnya.

Direktur PD Aneka Dharma Aditya Hera Nurmoko mengakui THR Gabusan Square memanfaatkan aset PD Aneka Dharma yang lama mangkrak. Tanpa sentuhan APBD, pihak ketiga yang bekerja sama dengan PD Aneka Dharma menyulap lokasi “angker” untuk usaha tersebut hidup. “Setiap hari ada 100 hingga 150 orang yang berkunjung,” sebutnya. (zam/ila/mg1)