BANTUL – Wacana memihakketigakan pengelolaan Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Pantai Parangtritis yang digulirkan Bupati Bantul Suharsono tampaknya tak sepenuhnya diterima.

Ketua Komisi B DPRD Bantul Widodo menilai, siapa pun bakal kesulitan menghadapi antrean panjang di depan TPR saat puncak musim liburan panjang.

“Dengan kondisi letak TPR seperti sekarang pasti kesulitan,” ucap Widodo di kantornya belum lama ini.

Politikus Partai Golkar ini berpendapat akar masalah antrean panjang yang berujung penggratisan retribusi saat puncak musim liburan panjang Natal dan tahun baru (Nataru) salah satunya terletak pada lokasi TPR.

Idealnya, Pantai Parangtritis memiliki dua loket TPR. Pertama, loket lama untuk melayani wisatawan yang mengendarai mobil pribadi. Kedua, loket baru untuk sepeda motor dan bus. Letaknya di selatan Jalur Jalan Lintas Selatan atau di sebelah selatan loket lama. Dengan begitu, tak ada lagi antrean panjang.

“Antrean di atas jembatan Kretek juga bisa diminimalisasi,” ucapnya optimis.

Faktor lain adalah nominal tarif retribusi. Menurutnya, tarif sebesar Rp 7.000 menyulitkan petugas TPR memberikan uang pengembalian. Bukan perkara mudah mencari pecahan uang Rp 1000.

Apalagi, seluruh wisatawan dapat dipastikan tidak membayar dengan uang pas. Karena itu, politikus dari Sedayu ini pun mendorong ada kebijakan baru. Terutama, tarif baru yang diberikan khusus untuk momen musim liburan panjang. Idealnya adalah Rp 8.000 atau Rp 10 ribu. Dengan begitu, petugas tak kesulitan lagi memberikan uang pengembalian. “Ini bisa diatur dengan perbup (peraturan bupati),” katanya.

Berbeda dengan Widodo, Anggota Komisi B DPRD Bantul Setiya mengaku bakal melakukan pencermatan. Khususnya, terkait boleh tidaknya pengelolaan TPR diserahkan kepada pihak ketiga.

Bila memang memungkinkan, politikus PKS ini mewanti-wanti PAD yang disetor pihak ketiga harus lebih besar dibanding target yang dihasilkan Dinas Pariwisata. “Itu pun mestinya harus dengan persetujuan DPRD,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Bupati Bantul Suharsono memiliki beberapa solusi untuk menuntaskan problem klasik di TPR Pantai Parangtritis. Salah satunya, memihak ketigakan pengelolaan TPR. Dengan catatan pihak ketiga harus berani memberikan sumbangan PAD lebih besar.

Solusi kedua adalah mendesain ulang sekaligus menambah jumlah lokasi loket TPR. Menurut Suharsono, ada dua lokasi yang dapat dijadikan loket. Pertama, sekitar simpang tiga Angkruksari (utara loket lama dan jembatan Kretek). Kedua, di Seloharjo, Pundong. (zam/ila/mg1)