Terkesan Jalur Ekstrem, Semboyannya Belum Pulang Sebelum Tumbang

Usia bukan halangan bagi pecinta touring. Meski sudah berkepala lima atau di atas 50 tahun, bahkan beberapa di antaranya sudah punya cucu, 11 warga Jogjakarta dari berbagai profesi, menaklukkan Jogja-Ende (Nusa Tenggara Timur) dengan menaiki sepeda motor, akhir tahun kemarin.

HERU PRATOMO, Jogja
Libur akhir tahun, komunitas touring SR Touring melakukan perjalanan jauh ke objek wisata danau tiga warna Kelimutu, Ende, Flores, NTT. Touring jauh ke provinsi yang berbatasan dengan negara Timor Leste ini menempuh jarak lebih dari 2.000 kilometer. Mereka berangkat dari DIJ Minggu (17/12) hingga Sabtu (30/12).

Touring yang diikuti 11 orang terdiri atas pamong guru SMKN 2 Jogja, karyawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Humas Pemprov DIJ itu berjalan sukses, walau jalan yang dilalui cukup berat dan ekstrem. “Tidak disangka, jalurnya sangat ekstrem,” ujar pemimpin rombongan, Muchamad Yusuf.

Berangkat dari Jogja Minggu (17/12) dengan start dari Jalan Solo, rombongan langsung mengaspal menuju Probolinggo (Jatim) dan bermalam di kota itu. Pagi harinya sekitar pukul 06.00, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lombok melalui Bali dan langsung nyebrang ke NTB pukul 24.00 WIT. Penyeberangan Padangbai (Bali)-Lembar (Lombok) ditempuh sekitar enam jam, sehingga rombongan bermalam di kapal. Pagi perjalanan dilanjutkan ke Praya-Pelabuhan Kayangan. Kemudian rombongan naik kapal menuju Pelabuhan Pototano. Dari Pototano mereka langsung menuju Sumbawa Besar- Manggalewa-Dompu-Bima-Sape. “Tahun sebelumnya sudah sampai Bima, maka tahun berikutnya kami niatkan nyeberang ke NTT,” ujar Sugiarto, salah seorang peserta touring yang sudah punya cucu ini.

Setibanya di Bima mendapat informasi bahwa kapal menuju Labuan Bajo berangkat pukul 20.00 WIT, sesampainya di dermaga ternyata tidak ada penyeberangan malam. Kemudian rombongan bermalam di Sape sambil menunggu kapal yang berangkat pukul 08.00 WIT.

Paginya atau Jumat (22/12) rombongan mulai menyeberang dari Sape ke Labuan Bajo dengan harga tiket Rp 186 ribu dan ditempuh 8 jam. Sampai Labuan Bajo pukul 16.30 WIT, setelah istirahat sejenak rombongan langsung berangkat lagi dari Bajo ke Ruteng yang jaraknya sekitar 200 kilometer.

Menurut Yusuf, rombongan sama sekali tidak membayangkan bila jalan dari Bajo-Ruteng berkelok-kelok dan ekstrem. Apalagi perjalanan malam itu dilakukan di tengah hujan deras, sehingga dibutuhkan tenaga ekstra keras untuk mencapai Ruteng di mana kanan-kiri jurang dan tebing tinggi yang rawan longsor.

Jalan dari Bajo menuju Ruteng medannya cukup berat. Selain melintasi hutan yang cukup panjang dan jalannya berkelok-kelok dan banyak tikungan tajam, nyaris tidak ada jalan lurus. Kalaupun ada jalan lurus, hanya sekitar 100 meter. Selebihnya berkelok-kelok dan keadaan ini baru usai setelah memasuki Kabupaten Ende.

“Kalau di Sumatera ada Kelok Sembilan, kalau ini seribu kelokan. Tikungannya sangat tajam dan jumlahnya tak bisa dihitung dengan jari,” kata Yusuf.

Kegiatan touring jarak jauh ini, jelasnya, sudah rutin dilakukan tiap akhir tahun. Salah satu tujuan mereka adalah ingin melihat secara langsung keindahan alam Indonesia dengan motor. “Semboyan kami sederhana, belum akan pulang sebelum tumbang,” ungkapnya. (laz/ong)