KULONPROGO – Petambak ikan bandeng di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur kesulitan mengembangkan budidaya bandeng akibat dominasi ikan nila hitam.

Ikan nila yang disebut petambak sebagai predator ini akhirnya dibudidayakan. Penyebabnya, para petambak tidak mampu membatasi populasinya.

Ketua Kelompok Bandeng Jaya Trisik Supoyo mengatakan kemunculan ikan nila terjadi sejak mereka mendapat bantuan ikan dari pemerintah. Kendati bibit yang mereka butuhkan sebetulnya bandeng. Namun populasi dan pertumbuhan nila mengancam bandeng yang sudah ditangkarkan.

“Ikan bandeng yang masih berukuran kecil dimakan nila. Nila ini predator, akhirnya kami memilih membudidayakan nila,” kata Supoyo.

Dia telah panen ikan nila hitam enam kali. Satu kali panen bisa dua sampai tiga kuintal. Bandeng sebetulnya memberi hasil yang tidak kalah menjanjikan. “Pernah satu kali panen satu kolam dua ton bandeng,” ucapnya.

Kelompok Bandeng Jaya Trisik memiliki empat kolam bandeng. Satu kolam luasannya mencapai satu hektare.

Secara keseluruhan, satu kali panen rata-rata kelompok bisa menghasilkan enam ton ikan nila hitam. Hasil panen biasanya turun saat musim kemarau.

“Kami panen nila setelah berumur sekitar empat bulan. Kalau dipanen waktu musim kemarau, nila banyak yang mati,” katanya.

Budidaya ikan nila lebih mudah dibanding bandeng. Nila cukup satu kali tebar sampai panen, pakannya lebih irit, karena tersedia pakan alami.

Berupa buangan tambak udang yang berada tidak jauh dari tambak ikan milik kelompok. “Pakan alaminya banyak, jadi pakannya lebih irit dibanding bandeng,” ujarnya.

Salah seorang pengepul ikan nila dari Jogja Tutik mengatakan nila yang dibudidayakan Kelompok Bandeng Jaya akan dijual di Pati, Klaten, Bogor serta beberapa daerah lain di Jawa Tengah. Saat ini permintaan pasar tinggi, namun barangnya kurang.

Harga ikan bervasiasi, tergantung jenis dan ukurannya. Nila hitam memiliki harga beli dan jual lebih murah ketimbang nila merah.

Nila Merah Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram di tingkat pembudidaya. Sampai di pasar harganya berkisar Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram.

“Kalau nila hitam di tingkat pembudidaya Rp 15 ribu per kilogram. Sampai di pasar Rp 18 ribu per kilogram,” ucapnya. (tom/iwa/mg1)