BANTUL – Sebagian petani di Desa Sriharjo, Imogiri diselimuti rasa was-was. Menyusul jebolnya saluran irigasi akibat siklon tropis Cempaka akhir November 2017. Jebolnya saluran irigasi sepanjang 200 meter ini berpotensi mengganggu suplai air.

“Ada 20 hektare lahan pertanian yang bakal terdampak,” kata Marsudi, 50, petani setempat saat ditemui di saluran irigasi yang jebol kemarin (4/1).

Petani asal Dusun Dogongan, Sriharjo, Imogiri ini mengungkapkan, fungsi saluran irigasi ini vital. Area pertanian seluas 20 hektare hanya menggantungkan suplai air dari saluran irigasi yang berhulu di Sungai Oya ini. Praktis suplai air di area pertanian ini bakal berhenti andai belum ada perbaikan.

“Padahal, sebentar lagi sudah musim kemarau,” keluh Marsudi.

Material saluran irigasi yang jebol masih berserakan. Bahkan sebagian berada di atas lahan petani. Lahan pertanian di sekitar saluran irigasi juga masih dibiarkan kosong. Alias belum ditanami.

Menurut Marsudi, para petani sempat menanam padi sekitar Oktober hingga November lalu. Namun seluruh tanaman rusak akibat diterjang banjir.

“Nanti ada kerja bakti membersihkan material irigasi,” ujar Marsudi.

Kepala Seksi Pengelolaan Jaringan Irigasi Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Yitno menyebut ada 100 saluran irigasi yang menjadi kewenangannya. Dari jumlah itu, 30 di antaranya mengalami kerusakan akibat siklon tropis Cempaka.

Saluran irigasi jebol yang terletak di Desa Sriharjo merupakan kewenangan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Dipertautkan). “Sudah kami koordinasikan penanganannya,” klaim Yitno.

Dia mengungkapkan, APBD 2018 sudah mengalokasikan anggaran perbaikan sebagian saluran irigasi. Nilainya sekitar Rp 413 juta. “Sebagian lagi dengan anggaran pemeliharaan,” katanya. (zam/iwa/mg1)