BANTUL – Seorang anak penghuni Panti Asuhan Tunas Harapan Umbulharjo, Jogja Lois Fernando tenggelam di Sungai Gajahwong, Dusun Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul, kemarin (4/1).

Proses pencarian awal dilakukan dengan teknik manual memakai jangkar. Setelah tak membuahkan hasil, tim SAR akhirnya menurunkan tim penyelam untuk menyisir dasar sungai.

Kepala Panti Asuhan Tunas Harapan Haogombowo Gulo mengatakan, Lois Fernando bermain di Sungai Gajahwong sekitar pukul 13.30 bersama temannya sepulang sekolah dari SD Balirejo, Umbulharjo.

“Biasanya jam 16.00 langsung pulang ke panti. Karena itu aturannya dan dia selalu disiplin, tidak pernah bandel. Tapi tidak tahu hari ini dia tidak langsung pulang, tahu-tahu ada laporan dia tenggelam di sungai,” jelasnya.

Lois diduga tenggelam karena tak bisa berenang sehingga terseret arus dan tenggelam di sungai.

Pusdalops BPBD Bantul Wiwin Efendi mengatakan, kedalaman sungai di tempat kejadian paling dalam sekitar dua meter lebih. Tim rescue dari Basarnas DIJ dan SAR melakukan pencarian dengan menyelam dan menyisir.

Usai melakukan pencarian lebih kurang tiga jam, relawan gabungan dari SAR, Basarnas dari berbagai wilayah di DIJ berhasil menemukan tubuh korban dalam keadaan tak bernyawa.

“Hampir empat jam tenggelam di palung bawah DAM Sungai Gajahwong. Ditemukan sekitar pukul 17.10. Petugas langsung membawa jenazah korban ke rumah duka yaitu Panti Asuhan Tunas Harapan di Umbulharjo,” jelasnya.

Sementara itu, dua bocah Lina Nur Saputri dan Nur Latyfah meninggal dunia akibat tenggelam di sebuah kolam renang di Hotel Puri Ganesha (PG) di Jalan Mangkuyudan, Mantrijeron, Rabu sore (3/1). Keduanya meninggal di dalam kolam sedalam kurang lebih dua meter.

Dari informasi yang dikumpulkan, awalnya kedua siswi kelas IV SDN Suryo 1 Jogjakarta datang ke kolam tersebut bertiga bersama seorang teman lainnya, Siti Amanda, sekitar jam dua siang. Ketiga anak yang merupakan warga Mantrijeron tersebut, dikabarkan sudah terbiasa berenang di tempat tersebut.

Kapolsek Mantrijeron Kompol Agus Setya Budi menerangkan, setelah membayar tiket masuk seharga Rp 8 ribu, hanya Lina dan Nur yang berenang. Sedangkan seorang anak lagi lebih memilih bermain di pinggir kolam.

Agus menjelaskan, selama keduanya berenang tidak ada penjagaan khusus terhadap kolam renang tersebut. Namun, aktivitas pengguna kolam bisa terpantau karena letaknya berada di kawasan hotel.

“Jadi petugas hotel sempat curiga karena tiba-tiba tidak ada aktivitas berenang,” jelas Agus.

Selanjutnya, petugas hotel yang berjaga ketika itu segera menolong keduanya. Penjaga hotel sempat memberikan pertongan pertama. Karena tidak sadar, keduanya dibawa ke Rumah Sakit Jogja untuk mendapatkan pertolongan. Namun nahas, nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan lagi.
Agus menjelaskan, korban sempat berada di rumah sakit hingga kedua orang tua korban tiba. Saat ini, kejadian tersebut tengah dibicarakan antara manajemen hotel dan pihak keluarga korban. “Akan diselesaikan secara kekeluargaan,” jelasnya.

Sementara itu hingga kemarin, kolam renang tersebut masih dipasangi police line. Salah seorang karyawan, Muryadi saat ditemui enggan menjelaskan kronologis kejadian tersebut. Kepada Radar Jogja, dia hanya menyampaikan bahwa pemilik siap bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Sudah dibicarakan dengan keluarga korban, dan pihak hotel akan memberikan santunan,” jelas Muryadi.
Selama ini tidak ada pengawasan khusus terhadap aktivitas pengguna kolam. Namun, para karyawan terkadang melakukan pemantauan. “Ke depan pengawasan akan kami perhatikan dan menjadi lebih baik,” jelasnya. (sky/bhn/ila/mg1)