SLEMAN- Memilih pemain terbaik dalam sebuah tim sepak bola gampang-gampang susah. Mudah jika sudut pandang pemilihan adalah like or dislike. Atau menilai dari sekilas penampilan. Sementara kompetisi berjalan dalam banyak pertandingan.

Namun sejatinya susah untuk bisa objektif. Sebab sepak bola adalah permainan kolektif yang dimainkan banyak orang. Kesuksesan tim tidak bisa dilakukan dan dipengaruhi oleh satu-dua individu.

Akan tetapi bukan hal yang mustahil. Terutama jika ditentukan dengan variabel-variabel penilaian. Seperti jumlah gol, assist, atau penyelamatan yang dilakukan dari beberapa pertandingan.

Jika acuannya adalah jumlah gol, tentu Dirga Lasut menjadi pemain Super Elang Jawa yang paling berpengaruh. Kata berpengaruh bisa diganti dengan penting atau terbaik. Sebab selama gelaran Liga 2, pemain asal Tomohon Sulawesi itu mencetak 13 gol. Berada di posisi dua di bawah topskor Rivaldi Bauwo asal Kalteng Putra (sekarang Arema) dengan 17 gol.

Mantan pemain Persija Jakarta bernomor punggung 15 itu termasuk pemain komplet. Dia bisa mencetak gol dengan kaki kiri, kanan, sundulan dan tendangan bebas. Keahlian terakhirnya ini sering memecah kebuntuan tim jika dalam posisi deadlock.

Ternyata, ada yang unik dari kemampuan menembak dari bola-bola mati itu. Selain dari ketekunan dan mencoba setiap latihan, pemain yang lahir 17 Agustus 1988 itu banyak belajar dari permainan video game Play Station. Dari game besutan Sony itu dia amati penendang-penendang tendangan bebas.”Sering lihat di PS dan YouTube. Seperti Pirlo, Del Piero, Juninho,” ungkapnya kepada Mainbola.

Dibandingkan musim 2016 di ISC-B, naluri gol Dirga melejit di musim keduanya di PSS. Itu tak lepas dari peran baru yang diberikan pelatih Freddy Mulai. Jika sebelumnya dia kerap beroperasi sebagai gelandang bertahan, maka FM mendorongnya ke depan di belakang striker tunggal.

Posisi barunya justru membuatnya leluasa bergerak dan menembak ke gawang. Termasuk memanfaatkan bola muntah dan umpan tarik striker Riski Novriansyah. Belum lagi kemampuannya membaca ruang, membagi bola dan memberikan umpan matang. Pergerakannya juga kerap merepotkan barisan pertahanan lawan.

Musim lalu Dirga juga termasuk selalu dimainkan. Dia jarang absen karena cedera maupun akumulasi kartu. Kebugaranya terjaga karena rutin menambah porsi latihan di fasilitas Elja Lab.

Sayang, penggemar Super Elang Jawa tidak akan melihat aksinya di Maguwoharjo International Stadium (MIS) lagi musim ini. Sebab Dirga dipastikan menjadi bagian dari Pusamania Borneo FC yang bermain di Liga 1 musim depan. (riz/din/mg1)