COWOK kelahiran Bogor, 5 Mei 1992 ini memang suka berbisnis sejak anak-anak. Berawal jualan komik, majalah, dan buku di dekat rumahnya, kemudian berlanjut bisnis apparel ketika SMA.

“Sempat juga membuka warung burjo di beberapa lokasi di Jogja saat kuliah. Ya memang suka dengan dunia usaha,” ujarnya mengawali percakapan.

Lantas bagaimana hingga akhirnya dia berkecimpung di dunia TI? Fikri, sapaannya, menuturkan, sejak kecil dia kecanduan game online. Bahkan masa remajanya dia habiskan di warung internet (warnet).

“Saya cocok di bidang TI. Passion saya ada di sini. Karena dari kecil, selain musik dan jualan, saya kecanduan game online,” tandasnya.

Tak hanya bermain game, Fikri juga mendalami dunia TI semasa SMA. Dia pun belajar membuat website bersama teman-temannya. “Awalnya memang untuk tugas sekolah,” ungkapnya.

Namun, karena latar belakang keluarganya di dunia medis, dia pun tak meneruskan kuliah di TI. Dia memilih melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan Kedokteran Gigi UGM.

Sampai akhirnya sulung dari empat bersaudara ini bertemu Glen Chandra, Co-founder Osman, yang mengenalkannya tentang ekosistem di industri TI yang sedang berkembang.

“Saya dan Glen Chandra sama-sama pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), kami sama-sama pernah mengalami masalah yang sama saat membangun usaha. Akhirnya saling berbagi dan muncul ide untuk membuat aplikasi yang memudahkan UMKM,” kata CEO dan Co-founder Osman ini.

Fikri dan Glen tak sendiri, bersama dua rekan lainnya, Achmad Romadlon dan Erzha Emaszda, merancang aplikasi Osman. Melalui aplikasi ini UMKM bisa lebih mudah melakukan kegiatan penjualan, pengelolaan produk, hingga pencatatan pendapatan. “Dengan menggunakan Osman, UMKM bisa fokus berinovasi,” ujarnya.

Osman, lanjutnya, memiliki tiga fitur utama. Pertama, fitur Manajemen Penjualan. Fitur ini bisa membantu penjual melakukan komunikasi secara otomatis (chatbot) dan manual. Saluran yang digunakan adalah media sosial dan marketplace.

Fitur kedua adalah Manajemen Produk. Fitur ini membantu tata kelola produk. Fitur ketiga adalah Laporan Pendapatan. Dengan fitur ini penjual dapat mengetahui laporan pendapatan dari penjualan online maupun offline secara otomatis.

Dia menjelaskan, aplikasi ini sangat membantu pelaku usaha. Misalnya, pada kasus pencatatan transaksi penjualan. Pemilik usaha kerap mengalami kesulitan untuk membuat pencatatan yang rapi dan tepat. Penyebabnya ada dua, pengetahuan akuntansi dan manajemen waktu. Pada kasus lainnya, pemilik usaha juga mengalami kesulitan dalam manajemen produk. Pada kasus ini, sering sekali distribusi barang terganggu karena kesalahan dalam pencatatan.

Osman percaya dengan bekerja sama maka banyak permasalahan seputar UMKM yang dapat diselesaikan. Semangat kerja sama menjadi kekuatan untuk membantu UMKM Indonesia berada pada posisi terbaik di industri e-commerce,” jelasnya panjang.

Sebagai perkenalan, Osman memberikan program life time membership untuk UMKM. Osman juga bekerja sama dengan PCP Express. Perusahaan logistik ini telah berpengalaman pada layanan door to door untuk pelanggan individu maupun korporat.

“Kerja sama ini membuka peluang bagi UMKM agar dapat dilayani mulai dari penjualan hingga pengiriman barang,” jelasnya.

Osman memiliki komitmen menjadi penggerak kegiatan usaha di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, Osman memilih pendekatan khusus dengan membuat sebuah forum komunikasi yang diberi nama Kawan Osman. Secara rutin, Osman berbagi cerita dengan UMKM yang unik dan kreatif.

Cerita tersebut dibagikan lewat video dokumentasi. Kawan Osman memilki misi untuk menemukan masalah-masalah yang nyata dan mutakhir untuk bisa diselesaikan dengan aplikasi Osman.

Soal UMKM yang belum melek teknologi, Fikri ingin mengajak pelaku usaha dapat mendapat manfaat dari perkembangan teknologi.

“Ini bukan jadi ancaman tapi jadi peluang. Osman mengajak UMKM bersama-sama mendapat manfaat dari perkembangan teknologi informasi,” terangnya. (yog/rg/mg1)