BANTUL -Siklon Tropis Cempaka yang menghantam mayoritas wilayah Kabupaten Bantul akhir November tahun lalu berdampak buruk kepada para petani. Tak terkecuali petani di Bulak Bantulan Blok I Dusun Kauman, Gilangharjo, Pandak. Produksi gabah pada masa tanam ketiga tahun lalu turun cukup signifikan.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Blok I Jawadi Wibowo menyebut penurunan mencapai satu ton per hektare. Biasanya, satu hektare menghasilkan gabah kering pungut sekitar satu ton.

“Panen kemarin sekitar sembilan ton per hektare,” jelas Jawadi di sela tradisi Sumpetan di Bulak Bantulan Blok I, kemarin (3/1).

Jawadi melihat, penurunan produksi ini karena proses pembungaan padi terganggu. Itu akibat bersamaan dengan hujan deras. Kendati begitu, Jawadi berharap musim tanam pertama pada tahun ini menuai hasil maksimal.

Ini pula yang diharapkan para petani dalam tradisi Sumpeten. Dikatakan, tradisi ini merupakan warisan para leluhur. Tradisi ini digelar usai para petani menanam seluruh sawahnya.

Dalam tradisi ini para petani memasang papan yang diletakkan melintang di atas irigasi. Kemudian para petani, tetua kampung, dan tokoh masyarakat duduk di atas papan tersebut

Dalam tradisi ini para petani menggelar doa bersama di area persawahan. Lengkap dengan uba rampe seperti jajan pasar, satu sisir pisang raja, berbagai macam jenang, dan nasi tumpeng. Tak lupa ada ingkung ayam yang menjadi perlambang kemakmuran para petani. “Setahun digelar tiga kali, sebagai wujud syukur atas berkah dari Tuhan,” jelas Jawadi.

Salah seorang tokoh warga Gilangharjo Eko Sutrisno Aji menyebut ada tiga musim tanam di Bulak Bantulan. Seringnya, para petani menanam padi. “Musim kali ini padi Mentik Wangi dan Mentik Susu,” ucapnya.

Terkait tradisi Sumpetan, Eko menilai, para petani tidak hanya mengandalkan teknologi pertanian seperti saluran irigasi yang memadai. Lebih dari itu, juga menggantungkan nasib tanaman mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Ini juga sebagai bentuk syukur atas panen pada musim sebelumnya,” tambahnya. (zam/ila/mg1)