KULONPROGO – PT Angkasa Pura (AP) I belum menunjukkan tanda-tanda melanjutkan pengosongan lahan dan bangunan warga penolak bandara. Mereka masih bertahan di lokasi calon bandara hingga kemarin.

Pemkab Kulonprogo mengakui langkah cooling down AP I untuk menghindari kegaduhan. Padahal batas waktu pengosongan lahan berakhir Desember 2017.

“Sementara kami cooling down dulu lah. Kami intensifkan koordinasi dengan AP I dan BPN untuk menginvetrisasi ulang termasuk menyelesaikan permohonan diskresi,” kata Assek II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kulonprogo Triyono Selasa (2/1).

Sementara, untuk rumah warga yang masih menolak tinggal 28 kepala keluarga (KK). “Data sebelumnya 32 KK,” kata Triyono.
Menurut dia, sebagian tanah warga yang masih menolak sebetulnya telah dikonsinyasi. Dititipkan di pengadilan.

Adapun untuk bangunan, tanaman dan sarana pendukung lain (SPL) masih menunggu keputusan diskresi dari Pusat. “Untuk dikresi, harapan kami bisa dikabulkan. Sehingga hak warga bisa diberikan. Tidak hanya tanah, tetapi juga bangunan, tanaman dan SPL-nya,” ujar Triyono.

Dikatakan, dalam waktu dekat Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo akan melakukan audiensi dengan para mahasiswa yang melakukan aksi solidaritas. Audiensi itu atas permintaan mahasiswa. Sebelumnya mereka menyampaikan aspirasi dan beraudiensi dengan PT AP I di Jogjakarta.

Mahasiswa juga akan mengikutsertakan warga penolak bandara. Selama ini Pemkab Kulonprogo juga terus mendampingi warga.

“Setelah menemui AP I di Jogja mereka ingin beraudiensi dengan bupati. Pak bupati menyanggupi. Pak Bupati akan menyampaikan informasi sebenar-benarnya. Agar informasi yang diterima tidak hanya sepihak,” ungkap Triyono.

Sebelum mahasiswa datang dan melakukan aksi solidairtas, Pemkab Kulonprogo membuka pintu komunikasi dengan warga penolak bandara. “Jika ada anggapan Pemkab acuh dengan warganya, itu salah. Karena pemkab terus ngaruhke (memperhatikan) warganya,” kata Triyono.

Pemkab juga memberi masukan kepada AP I. Pekerjaan fisik bisa segera dimulai tanpa harus menunggu land clearing tuntas.

“Saya pikir yang masih tersisa bisa diselesaikan sambil jalan. Pekerjaan fisik bisa dimulai sesuai jadwal, lahan dan pekerjaannya kan luas. Tentu banyak pekerjaan yang bisa dimulai,” ujar Triyono.

Project Manager Pembangunan NYIA Sujiastono mengatakan AP I masih menunggu waktu yang tepat. Belum akan melakukan proses pengosongan lahan.

Padahal warga penolak bandara tersebut ada di lahan dan bangunan areal IPL bandara. Tanpa terkecuali, bangunan yang masih dihuni warga tetap akan dirobohkan.

AP I tidak bertanggung jawab jika kenyamanan warga yang masih bertahan terganggu proyek konstruksi. Karena AP I akan segera mulai bekerja.

“Kalau ngga mau keluar, kami tidak tanggung jawab kalau (warga) ngga nyaman karena pekerjaan di lapangan terus berjalan. Warga harus move on (pindah) ke lokasi baru,” harap Sujiastono. (tom/iwa/ong)