KULONPROGO – Tingkat partisipasi angkatan kerja di Kulonprogo tahun 2017 tercatat 74,61 persen. Persentase itu terbilang cukup tinggi. Berbanding terbalik dengan angka pengangguran yang mampu ditekan hingga titik sangat rendah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulonprogo Eko Wisnu Wardhana menyatakan angka 74,61 persen itu artinya setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas, sekitar 75 orang di antaranya termasuk angkatan kerja.

“Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat usia produktif, aktif terserap dalam aktivitas bekerja untuk mencari nafkah. Sektor pekerjaannya cukup luas, baik yang formal maupun informal,” kata Eko Wisnu Selasa (2/1).

Angka pengangguran di Kulonprogo tahun 2017 hanya 1,99 persen. Artinya ada dua penganggur dari tiap 100 orang angkatan kerja.

Angka ini bahkan jauh lebih rendah dibanding kabupaten/kota lainnya di DIJ maupun rerata penganguran tingkat provinsi. Berdasarkan data, tingkat pengangguran di DIJ 3,02 persen; Kota Jogja 5,08 persen; Sleman 3,51 persen; Bantul 3,12 persen; dan Gunungkidul 1,65 persen.

Rendahnya pengangguran di Kulonprogo disebabkan komposisi sektor pekerjaan masyarakat lebih banyak di sisi informal. Mencapai 70 persen

Sementara sektor pekerjaan formal hanya 30 persen. Pada kabupaten/kota lain komposisi sektor pekerjaannya lebih banyak didominasi pekerja formal.

Dijelaskan, berdasarkan diagram pembagian sektor pekerjaan masyarakat di Kulonprogo, kelompok pekerjaan bidang pertanian, perkebunan, perburuan, dan perikanan menempati porsi terbesar. Yakni sebesar 31 persen.

Kelompok perdagangan, rumah tangga, dan jasa akomodasi 20 persen, dan industri 18 persen. Sedangkan kelompok pekerjaan jasa dan sosial kemasyarakatan 18 persen.

“Kehadiran bandara akan menurunkan sektor informal dan formal. April 2018, ada dua pabrik di Donomulyo Nanggulan yang beroperasi membutuhkan karyawan 800 orang. Ini mengurangi jumlah pekerja informal,” jelas Eko Wisnu.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kulonprogo sepanjang 2017 telah menyalurkan 2.533 tenaga kerja. Penempatan di bidang manufaktur masih paling tinggi.

Para pencari kerja juga cukup aktif dan mampu mengakses aneka lapangan kerja. “Lapangan kerja itu berupa Antar Kerja Lokal (AKL), Antar Kerja Antar Daerah (AKAD), hingga Antar Kerja Antar Negara (AKAN),” katanya

Penempatan ke luar negeri, ada sekitar 200 tenaga kerja yang dikirimkan. “Rata-rata ke Malaysia untuk jadi operator produksi di pabrik,” katanya.

Bahkan hari pertama masuk kerja pada 2018, sejumlah pencari kerja menumpuk di kantor Disnakertrans Kulonprogo. Ada yang sebatas konsultasi, mencari lowongan kerja, atau mengurus permohonan kartu pencari kerja (kartu kuning).

Disnakertrans Kulonprogo masih dipercaya sebagai lembaga penyalur tenaga kerja dan menyeleksi calon pekerja. Hal itu memudahkan pencari kerja mengakses informasi dan mendapatkan peluang kerja.

“Pemkab bekerja sama dengan lembaga dan perusahaan penyalur TKI swasta (PPTKIS/LPTK) dan BPT3TKI DIJ. Kami memberangkatkan 40 orang pekerja ke perusahaan di Batam. Sebanyak 33 orang di antaranya berdomisili Kulonprogo,” ujarnya.

Salah seorang peserta penempatan kerja di Batam, Ika Isfatonah, 18, warga Bojong I Panjatan mengatakan setelah lulus SMA 2017 dia mantap merantau ke Batam. Setelah dinyatakan lolos seleksi dan diterima di perusahaan lampu dengan masa kontrak dua tahun sebagai operator produksi.

“Baru pertama ini ke Batam. Semoga bisa mendapatkan pengalaman kerja. Kalau sudah habis kontrak, saya ingin buka usaha sendiri di tempat asal atau cari kerja di lingkungan bandara,” kata Ika. (tom/iwa/ong)