BANTUL – Puncak musim liburan panjang Natal dan tahun baru (Nataru) Senin (1/1) patut menjadi bahan evaluasi Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul. Ini seiring dengan membeludaknya tingkat kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata (obwis).

Salah satunya Pantai Parangtritis. Saking banyaknya wisatawan, petugas tempat pemungutan retribusi (TPR) Pantai Parangtritis terpaksa mengeluarkan kebijakan khusus. Yakni, menggratiskan seluruh pengunjung yang masuk.
Koordinator TPR Pantai Parangtritis Rahmat Ridwanto mengungkapkan, TPR sempat dibuka gratis selama tiga jam. Mulai pukul 13.30 hingga pukul 16.30. Sedangkan pengunjung yang mengendarai sepeda motor tetap digratiskan hingga petang kemarin.

Penggratisan dan pemungutan kembali retribusi ini atas permintaan kepolisian. Alasannya agar arus lalu lintas kembali lancar.

“Kami manut pak polisi. Karena yang punya kewenangan soal lalu lintas mereka,” jelas Rahmat di TPR Pantai Parangtritis, kemarin.

Dari pantauan, antrean di depan TPR Pantai Parangtritis memang cukup panjang. Padahal, seluruh kendaraan yang masuk ke obwis sudah digratiskan. Antrean kendaraan yang didominasi mobil pribadi ini mulai terlihat di simpang tigas Angkruksari.
Rahmat mengatakan, kebijakan kepolisian ini untuk mengantisipasi tumpukan kendaraan di atas jembatan Kretek. “Meski arus sudah direkayasa tetap ada tumpukan kendaraan di TPR,” ucapnya.

Apa petugas TPR kewalahan memungut retribusi hingga memicu tumpukan kendaraan? Rahmat menyebut jumlah personel yang diturunkan selama liburan panjang Nataru sebenarnya cukup banyak. Bahkan, hampir empat kali lipat lebih banyak dibanding hari biasa. Ada 30 personel yang ditugaskan untuk memungut retribusi. Adapun pada hari biasa satu sif delapan personel.

Kendati begitu, banyaknya wisatawan pada puncak liburan panjang Nataru kemarin memicu seluruh personel kewalahan. “Retribusinya Rp 7.000 per orang. Sementara mereka membayar dengan uang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu sehingga harus nyusuki,” ungkap Rahmat menyebut salah satu kendala proses pemungutan retribusi berjalan cukup lama.

Ini diperparah dengan separo bahu Jalan Parangtritis dimanfaatkan untuk kendaraan yang keluar dari obwis. Kondisi ini berbeda ketika tarif retribusi masih sebesar Rp 5.000 per orang. Rahmat melihat proses pemungutan jauh lebih cepat. Itu disebabkan pecahan uang kembalian yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Meski begitu, personel di TPR tak menghadapi banyak kendala pemungutan saat malam perayaan tahun baru.

“Karena mayoritas menggunakan sepeda motor,” katanya.

Kendati sempat digratiskan selama tiga jam, Rahmat mencatat perolehan retribusi saat puncak liburan panjang Nataru tinggi. Merujuk data TPR ada 20.500 wisatawan yang masuk sejak pukul 06.00 hingga pukul 13.30. Bila dirupiahkan mencapai Rp 138 juta lebih.

“Pada tanggal 31 Desember hingga malam tahun baru ada 39.700 wisatawan,” bebernya.

Kanit Laka Sat Lantas Polres Bantul Ipda Moelyanto saat ditemui di TPR Pantai Parangtritis membenarkan bahwa ada permintaan untuk penggratisan retribusi. Ini bertujuan meminimalisasi tumpukan kendaraan.

“Kami melihat antrean sudah panjang. Sementara personel TPR minim,” ujarnya.

Dia menegaskan, kepolisian sebenarnya tak keberatan petugas TPR memungut retribusi. Meski ada antrean panjang kendaraan. Kendati begitu, Moelyanto melihat, proses pemungutan dengan cara personel mendatangi setiap kendaraan tetap tak begitu signifikan mengurangi panjangnya antrean. (zam/ila/ong)