GUNUNGKIDUL –Cinta itu buta. Istilah itu agaknya memang ada benarnya. Gara-gara cinta seseorang bisa melakukan apa saja. Seperti yang dilakukan AAP, warga Padukuhan Ngelo I, Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul. Lantaran putus cinta remaja 18 tahun itu nekat melakukan percobaan bunuh diri dengan menusukkan pisau dapur ke dadanya. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (26/12) sekitar pukul 16.30. Namun kehebohan peristiwa itu masih sangat terasa hingga kemarin (27/12). Sebagai bahan pergunjingan masyarakat

Informasi yang diperoleh Radar Jogja, sore itu AAP berada di dalam rumah bersama neneknya, Warni, 70. Warni cukup kaget saat meminta AAP untuk memasakkan air. AAP menolak permintaan neneknya dan malah pergi ke dapur. Belum sirna rasa penasaran Warni, dirinya dibuat histeris oleh kelakuan cucu laki-lakinya yang saat itu menghunus sebilah pisau dapur. Yang membuat Warni tambah kaget bukan kepalang ketika dia melihat sang cucu mencoba menghunjamkan pisau itu ke dadanya sendiri. Warni pun berusaha sekuat tenaga untuk merebut benda tajam itu. Namun, tubuhnya yang renta tak kuasa menahan hasrat cucunya yang telah gelap mata.

Dalam hitungan detik AAP bersimbah darah dengan bekas luka tusukan di dadanya. Warni pun berteriak minta tolong para tetangga. Mendengar teriakan Warni, warga sekitar segera berdatangan. Mereka sesegera mungkin menyelamatkan AAP dengan membawanya ke Rumah Sakit Panti Rahayu Kelor, Semanu.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Dugaan awal karena persoalan asmara dan putus cinta,” ungkap Kapolsek Karangmojo Kompol Iriyanto kemarin.

Terpisah, Humas Rifka Annisa Defirentia One berpendapat, perilaku bunuh diri bisa dikaitkan dengan isu gender. Menurutnya, berbagai data penelitian menyebutkan, laki-laki lebih banyak melakukan bunuh diri dibandingkan perempuan.

“Sebagian besar kasus bunuh diri disebabkan karena depresi dan permasalahan kesehatan mental atau gangguan psikologis,” ucap aktivis pemberdayaan dan pendampingan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Selain menyakiti diri sendiri, lanjut Defirentia, laki-laki lebih berisiko melakukan tindak kekerasan kepada orang lain sebagai pelampiasan depresi.

“Dalam budaya kita, laki-laki dituntut untuk kuat, tegar, tidak cengeng, dan harus mampu mengatasi masalahnya sendiri. Namun, tidak semua laki-laki sanggup memenuhi konstruksi tersebut,” tuturnya.

Dikatakan, laki-laki biasanya kurang terbuka jika memiliki masalah, sehingga memendam beban itu sendiri. Laki-laki kurang begitu terbuka dalam mengekspresikan kesedihannya pada orang lain. Sehingga help seeking behavior (perilaku untuk meminta tolong) sangat rendah.(gun/yog/ong)