Krido Suprayitno (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

SLEMAN– Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) DIJ Krido Suprayitno meminta Pemkab Sleman tuntas merancang upaya relokasi. Hingga saat ini terdapat 27 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Prambanan yang masuk daftar relokasi pascalongsor akibat Badai Siklon Tropis Cempaka. Mereka berasal dari sejumlah desa, yakni Sumberharjo, Wukirharjo, Sambirejo, Gayamharjo, dan Bokoharjo.
Krido meminta pemkab segera mengirim detail rencana relokasi. Tentunya agar Pemprov DIJ dapat mengetahui rancangan program. Termasuk pemanfaatan lahan agar pembebasan status lahan bisa disegerakan.
“Saya baru tahu ada rencana relokasi 27 KK. Kalau bisa secepatnya, termasuk detail lokasi dan berapa jumlah jiwanya. Belum tahu juga apakah akan memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD),” jelasnya kemarin (5/12).
Dia juga mendorong agar skema lama juga dikirim. Yakni relokasi pasca Gempa Bantul 2006. Kala itu ada puluhan warga Sengir, Sumberharjo, Prambanan direlokasi dari wilayah tebing bukit Prambanan. Warga ini kini telah menghuni rumah dome Nglepen.
Krido memastikan pembebasan lahan berlangsung 2018. Hanya, perlu langkah cepat agar kebijakan dari Dispetaru DIJ bisa lahir. Setidaknya pengajuan ini dalam rentang waktu pengungsian 2010 hingga 2018.
“Harapannya, 2018 sudah diajukan oleh Pemkab Sleman ke Gubernur DIJ terkait pelepasan tanah untuk relokasi. Dispetaru DIJ juga akan mempercepat prosesnya,” ujarnya.
Mengenai relokasi 27 KK sejatinya bisa turut disertakan. Hanya, dia belum bisa berkata banyak. Terlebih hasil dari rapat Pemkab Sleman belum final. Setidaknya dia meminta ada gambaran pasti mengenai pemindahan warga lereng bukit ke wilayah yang lebih aman.
“Termasuk mekanisme lahan yang dipakai itu TKD atau apa saya belum tahu. Tapi disegerakan saja, fokusnya agar keamanan warga terjamin. Apalagi terkait rumah tinggal,” kata pria yang juga menjabat Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ ini.
Sebelumnya Bupati Sleman Sri Purnomo mengaku siap atas skema relokasi. SP, sapaannya, meminta warga legawa untuk pindah. Terlebih berdasar kajian tim lapangan, tanah tergolong labil. Pasca badai ada beberapa retakan yang bisa saja longsor sewaktu-waktu.(dwi/ila/amd)