Sudah Tidak Layak dan Terlalu Padat

KULONPROGO – Pasar Burung Gawok Wates di belakang Terminal Wates akan dipindah ke sisi utara Pasar Hewan Terpadu Pengasih, Kulonprogo. Alasannya, pasar tersebut dinilai tidak layak dan terlalu padat.

“Untuk pemindahan sudah dilakukan pembebasan tanah. Sekaligus untuk jalan masuk,” kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo Nur Syamsu Hidayat Rabu (6/12/2017).

Lahan seluas 5.000 meter persegi sudah dibebaskan pada 2016 dan sudah disertifikatkan. Selain pasar burung, pasar rumput di sebelah selatan pasar burung juga akan dipindah ke sisi utara Pasar Hewan Terpadu.

“Lahan itu memang untuk pembangunan pasar burung. Detail Engineering Design (DED) sudah kami buat untuk pasar burung dan pasar rumput,” jelasnya.

Proses pembangunan pasar burung dan pasar rumput beserta fasilitasnya diperlukan anggaran Rp 6 miliar. Pihaknya sudah mengusulkan agar bisa dialokasikan dari APBD DIJ 2018.

“Tapi juga tergantung provinsi. Sudah kami usulkan dan ada lobi juga dari Bappeda Kulonprogo dengan tim anggaran provinsi,” imbuhnya.

Bekas pasar burung di barat Pasar Gawok Wates belum diputuskan akan digunakan untuk apa.

Pasar burung di Pasar Hewan Terpadu dinilai lebih representatif. Bisa menampung lebih banyak lagi pedagang.

Setelah menjadi satu di Pasar Hewan Terpadu, nantinya pasar burung tidak lagi di bawah pengelolaan Dinas Perdagangan tetapi di bawah pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Hewan dan RPH di bawah Dinas Pertanian dan Pangan.

“Pasar hewan akan mulai pindah secara resmi 7 Desember 2017 ke Pasar Hewan Terpadu. Pembangunannya sudah selesai 100 persen pada 20 November 2017, termasuk akses jalan masuknya,” ujarnya.

Salah seorang pedagang burung, Ngadino, 66, mengungkapkan, dia akan mengikuti kebijakan pindah ke Pasar Hewan Terpadu. Namun dia khawatir pemindahan menyebabkan sepi pembeli.

“Pengalaman dulu, butuh lima tahun untuk bisa ramai. Seperti saat pasar hewan di depan stasiun dipindah ke belakang terminal pada 1986. Kondisinya baru pulih pada 1990,” kata Ngadino yang sudah menjadi pedagang burung sejak 1980. (tom/iwa)