KESELAMATAN: Wilayah yang berada di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman termasuk dalam kawasan rawan bencana (5/12). (DWI AGUS/Radar Jogja)

SLEMAN – Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) DIJ Krido Suprayitno berharap warga sekitar patuh. Terlebih berdirinya TLWC seakan mendapat dukungan penuh dari warga yang tinggal di sekitar The Lost World Castle yang berada di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman mematuhi aturan. Dirinya menegaskan aturan baku tidak ada celah toleransi, termasuk adanya pengecualian.

Menurutnya, kawasan tersebut masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III terdampak langsung. Artinya, sebagai kawasan lindung bukan pemukiman. Sesuai Perda Sleman Nomor 12 Tahun 2012 juga tidak boleh ada pembangunan permanen pasca Erupsi Merapi 2010.

“Ada aktivitas wisata pun dengan catatan, misal wisata minat khusus. Acuan alat ukur sesuai ATR adalah Kawasan Strategis Nasional (KSN) Gunung Merapi. Pengajuan izin itu wewenang Kabupaten, sedangkan provinsi dalam rangka pengawasan dan pengendaliannya,” jelasnya.

Ada yang unik saat pemasangan papan oleh Kementerian Araria dan Tata Ruang ATR. Sang pemilik TLWC, Ayung, terlihat mondar-mandir. Hanya saja, dia enggan berkomentar dan memasrahkan kepada perwakilan warga, Ahmad Saukani.

“Enggak, enggak mau komentar, wawancara saja dengan Ketua Paguyuban The Lost World,” kilahnya.

Ahmad Saukani yang juga menjabat ketua paguyuban mengaku biasa saja. Adanya papan peringatan tidak akan menghentikan kegiatan di TLWC. Menurutnya papan peringatan tersebut bukan penanda penghentian operasional TLWC.

“Kami sadar kawasan ini masuk KRB III, kami juga sudah mendapat SP III dari Pemkab Sleman. Papan peringatan tidak melarang pengunjung untuk datang, kami tetap buka. Jika memang ditutup kami minta ada solusi agar warga tidak menganggur,” katanya. (dwi)