Suzanti Gabung Basarnas, Yulianti Hidupkan Dapur Umum

Penanganan bencana alam tak lagi sebatas tugas laki-laki. Kaum Hawa pun bisa turut berkiprah. Bukan hanya di dapur umum. Urusan lapangan pun tak jarang mampu diselesaikan para Srikandi relawan bencana.
DEWI SARMUDYAHSARI, Bantul
HENDRI UTOMO, Kulonprogo

Gaya dan perawakannya sama seperti perempuan muda pada umumnya. Namun, sikapnya akan lain saat mengenakan baju orange menyala. Dengan seragam Basarnas DIJ, Suzanti Indah Sari adalah seorang rescuer bencana.

Dara 21 tahun itu sangat paham jika tugasnya sangat dekat dengan bahaya yang bisa mengancam jiwanya. Namun semua itu bukanlah kendala baginya. Semangat menolong orang lain menjadi motivasi hidupnya. Doa orang tua serta keterampilan mitigasi bencana menjadi bekalnya. Karena itu, di usia yang masih relatif muda, Suzanti mengaku siap ditugaskan di mana pun dan dalam kondisi bencana apa pun.

Suzanti bergabung dengan Basarnas DIJ pada 2014. “Saat ada kesempatan, saya ikut mendaftar dan alhamdulillah diterima,” ujar gadis kelahiran Masohi, Ambon. Suzanti mulai tertarik dengan dunia search and rescue (SAR) sejak dia duduk di bangku kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Saat itu dia aktif dalam SAR UNS. Sulung dua bersaudara ini juga kerap mengawal mahasiswa pecinta alam yang berpetualang di alam bebas. Dari situlah semangatnya terasah. Jiwanya ikut tergerak dan semakin yakin untuk bisa menjadi seorang rescuer.
Sejak bergabung dengan Basarnas DIJ, beberapa aksi penanganan bencana pernah dilakoni Suzanti. Salah satunya saat dia ditugaskan untuk ikut mengevakuasi korban tanah longsor di Purworejo, Jawa Tengah pada 2016 silam. Hal itu menjadi pengalaman spesial bagi Suzanti karena dirinya adalah satu-satunya perempuan dalam tim yang dikirim Basarnas DIJ.

“Rasa khawatir tentu ada. Apalagi ada kemungkinan longsor susulan. Evakuasi saat itu terus berjalan, meski hujan. Lega luar bisa saat kami bisa menemukan korban yang sudah ditunggu-tunggu keluarganya,” kenangnya.

Bagaimana pun kondisi korban, lanjut Suzanti, harus bisa ditemukan. Bisa menyelamatkan korban menjadi anugerah tersendiri.

Sepak terjang di dunis SAR, diakui Suzanti, menimbulkan kekhawatiran keluarganya, khususnya kedua orang tua. Namun, menjadi rescuer sudah menjadi kebulatan tekadnya. Bahkan, itulah pilihan hidupnya. “Harus ikhlas dan yakin. Kalau sudah jadi pilihan harus dijalani sepenuh hati,” tegasnya.

“Terutama ibu yang sering khawatir saat saya sedang bertugas. Ibu pasti telepon, meski kadang terpaksa tidak saya angkat,” lanjut gadis berhijab itu.

Sedikit berbeda dengan Suzanti, kiprah Wiwit Yulianti bisa dibilang lebih membutuhkan sentuhan feminisme perempuan. Ya, itu lantaran anggota Pramuka Kulonprogo itu memilih aktif di dapur umum barak pengungsian. Tepatnya di posko banjir Balai Desa Panjatan, Kulonprogo.

Bersama puluhan penggiat Pramuka Peduli, Yulianti mengerjakan apa saja yang ditugaskan di posko bencana. “Apa saja dikerjakan sebisa mungkin. Tidak boleh pilih-pilih, apalagi lempar tanggung jawab,” katanya. “Ini sudah jadi rutinitas kami. Bahkan, saat Lebaran kami biasa turun di jalan membantu polisi mengatur lalu lintas,” sambung dara 15 tahun asal Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, itu sambil memainkan enthong di tangan kanannya di atas wajan. Saat itu Yulianti sedang membuat nasi goreng.

Tak ada rasa canggung bagi siswa kelas XI SMKN 1 Pengasih, Kulonprogo, itu setiap terjun di posko-posko bencana. Mencari teman lebih banyak menjadi salah satu tujuannya. Selain mengaplikasikan ilmu sosial dan pengabdian masyarakat, sebagaimana tuntutan bagi setiap anggota Pramuka. “Yang paling penting saya bisa ikut merasakan penderitaan korban, serta ikut berbagi dan menolong mereka,” tutur Yulianti.

Sadar masih berstatus pelajar, Yulianti pun harus pandai-pandai mengatur waktu untuk belajar. Beruntung, jumlah relawan Pramuka Peduli cukup banyak. Mereka berasal dari berbagai sekolah. Dengan begitu, mereka bisa berbagi tugas dengan sistem shift. Yang bertugas di Balai Desa Panjatan saja tak kurang 50 orang. “Kami tak membatasi diri. Siapa pun boleh gabung, termasuk yang bukan anggota Pramuka Peduli,” kata Fara Rinanti, 16, warga Gedangan, Sentolo, Kulonprogo.

Bersama Yulianti dan beberapa anggota Pramuka Peduli, setiap hari Fara memasak dan mengemas sedikitnya 100 nasi bungkus untuk para pengungsi dan relawan. Selain nasi goreng, mereka biasanya menggoreng telur, terong, atau memasak oseng-oseng tempe. “Kami akan berada di posko ini sampai semua pengungsi kembali ke rumah masing-masing,” ujar Fara.(yog/ong)