PURWOREJO – Sedikitnya enam keluarga yang terdiri atas 15 jiwa masih terisolasi akibat bencana longsor yang melanda Purworejo. Lambannya proses pelaporan kebencanaan dari pihak desa menjadikan mereka nyaris tidak terperhatikan oleh pemerintah.

“Longsor di Dusun Silegi RT 3 RW 1 Desa Tlogobulu, Kecamatan Kaligesing, lepas dari pengamatan kita. Kami baru mendapatkan laporan pada Sabtu malam. Padahal lokasi itu sudah terkena longsor sejak Rabu dini hari,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Boedi Hardjono Minggu (3/12).

Dikatakan Boedi, lokasi longsor cukup luas di mana hutan seluas hampir 1 hektare tanahnya turun dan menutup akses menuju ke rumah enam KK itu. Selama hujan masih turun, warga tidak bisa berbuat banyak dan keluar dari pemukimannya. Hal itu dipicu tidak ada akses jalan lain yang digunakan keluar dari tempat mereka tinggal.

Adapun panjang longsoran sekitar 100 meter dengan tebal longsor mencapai 7 meter. Adapun jalan desa yang tertutup longsor selebar 2,35 meter. Warga baru bisa keluar dari rumah saat hujan tidak turun dan kondisi tanah mulai mengering.

“Setelah kering warga yang punya motor baru bisa mengeluarkan. Karena kalau hujan tanah longsoran tidak mungkin dilewati karena bercampur air. Sementara warga menitipkan kendaraannya di tetangga dari rumah sekitar 500 meter. Ini agar saat hujan lagi mereka masih bisa beraktivitas walaupun harus berjalan ke rumah warga lain 0,5 Km,” jelasnya.

Dikatakan, akses jalan itu cukup vital bagi masyarakat. Selama ini merupakan jalan menuju ke hutan yang menjadi sumber penghidupan warga. Beberapa hasil pertanian yang diandalkan warga di antaranya mengumpulkan nira kelapa, cengkih maupun areal persawahan.

“Melihat material yang ada, seharusnya harus diturunkan alat berat. Tapi terus terang kami kesulitan mengirimkan alat berat ke sana. Jalan provinsi menuju Pandanrejo sebelum menuju ke Tlogobulu cukup berat dan sempit, ada kelokan tajam yang cukup membahayakan,” tambah Boedi.

Pihaknya masih mengupayakan berbagai cara agar kawasan itu bisa dipulihkan sehingga aktivitas warga benar-benar hidup. Setidaknya diperlukan pemikiran bersama dan kepedulian warga agar material bisa diangkat dan jalan muncul lagi.

Disinggung penanganan darurat yang telah dilakukan pasca bencana banjir dan longsor, Boedi menyampaikan pihaknya masih fokus pada pembukaan jalan, baik jalan provinsi, kabupaten maupun jalan antar desa. Diakui, banyak titik jalan yang terdampak longsoran dan membutuhkan pembukaan segera.

“Jalan-jalan kami utamakan dibuka, walaupun ada yang sebatas untuk roda dua. Kenapa tidak kita paksakan, karena ada beberapa titik jika dibuka total malah akan menimbulkan longsor susulan. Tapi itu semua tetap akan kami tangani,” kata Boedi.

Proses pembukaan jalan sendiri dilakukan dua cara, yakni menggunakan tenaga manual maupun alat berat. Keterbatasan alat berat memang menjadi salah satu kendala percepatan penanganan di lapangan. “Kami hanya memiliki dua alat berat. Kami harus pintar-pintar menempatkan skala prioritas,” tandasnya. (udi/laz/ong)