JOGJA- Festival pendamping Biennale Equator #4 digelar, di Jogja Nasional Museum (JNM), 25 November- 5 Desember 2017. Mengusung tema Orginizing Chaos pameran kali ini mengangkat wacana serta dinamika yang terjadi ditengah- tengah masyarakat.

“Festival Equator adalah festival pendukung dan pendamping Biennale Jogja, sejak Biennale Jogja memulai proyek panjang seriEQUATOR. Sebagaipendukung, festival ini bertujuan memfasilitasi dialog tentang persoalan di lingkar equator serta wacananya yang disebarkan ke masyarakat luas di luar kesenian,” Koordinator Festival Equator Biennale Jogja XIV Trisni Rahayu.

Dia menjelaskan, orginizing chaos adalah sebuah tema yang mengangkat wacana atas dinamika persoalan-persoalan yang terjadi secara historis ditengah masyarakat hari ini. Dalam hal ini, kesadaran baru masyarakat coba dimunculkan melalui rangkaian peristiwa yang berlangsung di ruang publik secara tidak wajar.

Bentuk-bentuk peristiwa disusun sedemikian rupa sebagai sebuah teks implisit, yang bertujuan mengingatkan kembali momen-momen traumatik di masa lalu dengan mengaitkannya pada konteks Jogjakarta. Kesadaran itu ada ketika momen traumatik itu muncul. Pada titik ini pula dirasa turut melahirkan momen estetik.

Jika pada edisi-edisi sebelumnya Festival Equator berlangsung secara blusukan dan gamblang, Festival Equator kali ini terwujud dalam peristiwa-peristiwa yang dilakukan secara senyap dan menyelinap di antara hiruk-pikuk masyarakat selama 30 hari di bulan Oktober 2017. Atribut atau identitas seniman dan komunitas yang menunjukkan bahwa aktivitas mereka merupakan bagian dari Festival Equator pun disamarkan. Dengan begitu, definisi dari peristiwa ini diserahkan kepada publik.

“Besar harapan pameran kali ini bukan saja ingin dilihat sebagai sebuah dokumentasi (arsip) atau proses (perjalanan) tetapi juga sebagai upaya reflektif publik atas peristiwa yang telah dihadirkan. Pantaskah kemudian ia dihadirkan kembali sebagai kerangka konstruksi kesadaran dan sejauh mana pula ia dapat memberikan kesadaran baru di tengah masyarakat hari ini,” tutur Trisni. (met/ong)