RADARJOGJA.CO.ID – Bedah buku kumpulan Cerpen berjudul Bedak dalam Pasir karya Sule Subaweh pada akhir pekan lalu di Universitas Sumbawa (UNSA) Besar berlangsung meriah. Sang pembedah, Juanda menilai cerpen yang disajikan Sule merupakan potret realis dengan ending mengejutkan.

“Saya digiring ke barat tapi sebenarnya tujuan penulis ke timur,” terang Juanda saat membedah kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir.

Menurut Juanda, kumpulan cerpen Sule banyak berbicara keresahan masyarakat sekitar. Seperti cerpen Ramuan Mimpi, Wajah Lain Supriana, Ayat-Ayat Rotan, dan beberapa cerpen lainnya.

“Melalui karakter tokoh alur cerita menjadi hidup. Dia menghidupkan cerita melalui karakter tokoh dan kecemasan yang terus bergerak. Akrobatik alur cerita dengan teknik logika terbalik membuat pembaca disuguhkan hal tak terduga di ending,” papar Kaprodi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) UNSA.

Dalam kesempatan itu, Sule sebagai penulis mengaku ingin membiarkan pembaca menentukan arah ending dengan teknik ending mengantung. Dia mempermainkan pembaca lewat ending dan cara karakter emosi tokoh disetiap cerpennya.

Imaji yang dibangun di dalam kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir disajikan dengan bahasa yang familiar. Jadi pembaca sangat leluasa membacanya.

Kumpulan cerpen yang berjumlah sebelas judul ini merupakan karya perdana Sule Subaweh “Rata-rata cerpen dalam kumpulan sudah dimuat di emsia cetak. Kumpulan cerpen sudah di persiapkannya sejak 2014,” kata Sule yang merupakan staf Humas Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta ini. (mar)