Antusiasme Warga Kledokan, Selomartani, Kalasan Menyambut Ngayogjazz 2017

Guyub, Gereget, Gayeng. Motto 3G warga Kledokan, Selomartani, Kalasan menjadi salah satu kunci semangat menyukseskan perhelatan Ngayogjazz 2017. Bagaimana antusiasme mereka menyambut pentas akbar ini?
VITA WAHYU HARYANTI, Sleman
Hari-hari sibuk. Itu dialami Ridwan Tri Nugroho dalam beberapa minggu terakhir ini. Ridwan termasuk salah seorang penggerak karang taruna Dusun Kledokan. Tak pernah absen dalam setiap perhelatan seni, budaya, maupun kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan di wilayahnya.

Demikian pula Ngayogjazz 2017. Warga RW 2 Kledokan itu termasuk yang cukup sibuk. Bersama pemuda setempat Ridwan bertekad menyukseskan pentas musik jazz yang digawangi seniman kondang Djaduk Ferianto itu. Terlebih Ngayogjazz menjadi event tahunan yang selalu ditunggu publik.
“Kami ikut menyiapkan detail rencana pementasan sejak dua bulan lalu,” ungkap Ridwan di sela menggarap finishing pemasangan panggung pentas dan stan-stan pendukungnya kemarin (17/11).

Sesuai konsep Ngayogjazz yang selalu dihelat di pelosok pedesaan, halaman rumah-rumah warga pun disulap menjadi panggung pentas. Termasuk salah sebuah rumah warga berbentuk joglo yang disulap menjadi venue pertunjukan seni budaya. Konstruksi rumah yang lebih tinggi dari halamannya membuat joglo itu tak ubahnya sebuah panggung.

Ya, area berukuran 4×6 meter persegi khusus untuk pementasan gejog lesung. Kenyamanan pengunjung saat melihat pementasan pun mereka pikirkan. Itulah yang membuat pemuda setempat merombak total kandang sapi komunal yang terletak di depan rumah joglo. Kandang itu disulap menjadi tempat nongkrong asyik bagi pengunjung. “Lumayan, bisa buat leyeh-leyeh,” kata Ridwan lalu terkekeh.

Kandang sapi itu memang sudah tak lagi berfungsi secara permanen sejak beberapa bulan terakhir ini. Para pemuda pun tak kehilangan akal untuk memanfaatkannya untuk menyemarakkan Ngayogjazz. Kandang yang semula menghadap arah utara diputar 90 derajat ke timur. “Supaya lebih enak dipandang. Sekaligus bisa jadi area tempat duduk yang nyaman bagi pengunjung,” sambungnya.

Bagaimana dengan area parkir? Ya, Ngayogjazz selalu menjadi magnet masyarakat. Tak hanya bagi pecinta musik jazz. Tak sedikit pula wisatawan luar daerah yang sengaja hadir untuk menyaksikan aksi musisi-musisi jazz kenamaan Tanah Air. Sawah pun menjadi pilihan untuk sarana parkir. Tentu saja bukan sawah produktif, tapi usai dipanen padinya. Sawah sengaja dijadikan area parkir karena letaknya tak terlalu jauh dari lokasi acara. “Untuk toilet umum kami manfaatkan rumah-rumah warga yang dekat panggung,” jelasnya.

Di sepanjang jalan masuk menuju panggung-panggung Ngayogjazz warga Kledokan juga membuka warung tiban. Karena itu, para pengunjung tak perlu khawatir kehausan dan kelaparan selama menikmati Ngayogjazz. Bagi penyuka minuman kopi, teh, dan jahe bisa mampir ke angkringan yang juga banyak tersebar di area pentas.

Bagi Djaduk Ferianto, dipilihnya Kledokan sebagai lokasi Ngayogjazz bukan tanpa alasan. Lebih karena nilai historisnya. Kledokan menjadi salah satu wilayah penting pada masa perjuangan kemerdekaan RI. Lebih dari itu, esensi gotong royong yang masih kuat dipelihara masyarakatnya diibaratkan seperti jam session dalam sebuah musik jazz.

“Jam session, kan seperti kegiatan gotong royong. Kami memandang warga Kledokan sangat peduli dengan kebudayaan sejak dulu. Sama seperti Ngayogjazz, menggaungkan kebudayaan lewat seni,” ujarnya.

Ngayogjazz tak hanya menjadi alat branding sebuah kampung budaya. Melalui musik jazz, Ngayogjazz sekaligus menggarap potensi sumber daya manusia yang terlibat agar menularkan bakat seni mereka di bidang lainnya. “Termasuk 3G tadi, menjadi suatu gerakan kultur yang harus dibudayakan. Bukan money oriented,” tutur pria berkacamata ini.

Adapun, ratusan musisi akan tampil dalam Ngayogjazz ke-11 ini. Seperti Everyday band, Endah N Rhesa, Jeffrey Tahalele & Friends, Bintang Indrianto, Bianglala Voices, Sri Hanuraga Trio feat. Dira Sugandi, NonaRia feat. Bonita, Gugun Blues Shelter, Jatiraga, Alangalang, Rully Shabara, Huaton Dixie, serta komunitas jazz Nusantara. (yog/ong)