Tak Minder, Tetap Berkarya, Akhirnya Tetaskan EP

Siapa tak suka musik? Hampir semua anak muda tentu menyukai musik. Namun, tak banyak yang menyenangi genre Orchestral Metal. Dari yang sedikit itu, anak-anak muda dari Bumi Menoreh ini di antaranya. Siapa mereka?
REREN INDRANILA, Kulonprogo
SUARA drum terdengar mantap menghentak di sebuah studio musik di Panjatan, Kulonprogo. Sejurus kemudian terdengar suara penyanyi yang berteriak-teriak. Sekilas suaranya seperti serak. Namun, ternyata itu teknik menyanyi scream, yakni cara bernyanyi dengan nafas yang keluar masuk lewat tenggorokan, biasa juga disebut inhale dan exhale.

“Memang seperti suara monster, tapi sebetulnya itu tidak sekadar mengeluarkan kesan serak saja karena ada tekniknya. Biasanya teknik scream ini untuk musik-musik ber-genre metal,” ujar Anselmus Bagas Putra Kumara, gitaris band Orchestral Metal asal Kulonprogo, Holiday With Masha ditemui belum lama ini.

Ya, Bagas, begitu dia disapa, bersama teman-temannya membentuk band metal. Bersama Angger Putra Yudiarta (vocalist), Riki Setiawan (drummer), dan Galih Jayaningtyas (bassist).

Bagas mengungkapkan, band ini memilih aliran Orchestral Metal yang menggabungkan unsur simfoni ala orkestra dengan aliran musik metal yang lebih modern.

“Holiday With Masha memainkan instrumen yang paling dominannya, yaitu synthesizer berbasis multi-sampling yang menghasilkan segala hasil nada dari instrumen dua orkestra,” jelas cowok yang saat ini kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Bagas mengaku memilih genre ini karena belum banyak yang mengenalnya. Mereka ingin mempromosikan aliran musik ini ke anak-anak muda lainnya, tak hanya di Kulonprogo, tapi juga di Jogjakarta.

“Kami sering manggung di beberapa kafe yang memfasilitasi band-band metal atau hardcore. Salah satunya kafe musik di bilangan Babarsari, Sleman,” jelasnya.

Pada tahun ini, tepatnya 26 Maret 2017 lalu, Holiday With Masha mengikuti salah satu event besar di Jawa Tengah, tepatnya di Gor Mahesa Jenar, Purbalingga. “Itu merupakan acara Soul Revolusound ke-7. Menjadi salah satu supporting act dari Last Kiss From Avelin, salah satu penggerak utama post-hardcore di kota kembang, Bandung sejak 2000-an,” jelasnya.

November ini merupakan bulan yang spesial buat mereka, yang akhirnya mampu menelurkan sebuah rilisan EP (Extended Play). EP merupakan rilisan album berupa CD, kaset, vynil, atau rilisan digital dengan format terdiri lebih dari satu lagu. Durasinya pun tidak terlalu panjang.

“Merilis album EP berjudul Be Honest I am A Sinner. Album ini bertemakan seorang pria yang dipermainkan oleh perempuan, yang berujung pada balas dendam sang pria, serta sebagian menceritakan tentang karma,” ungkap Bagas yang tinggal di Nanggulan, Kulonprogo ini.

Album baru ini, lanjutnya, diproduksi sepenuhnya di Southstar Record yang bertempat di Panjatan, Kulonprogo. Album ini memakan waktu sekitar enam bulan.

“Semua kami lakukan di Kulonprogo. Ya kami bangga sebagai anak Kulonprogo,” selorohnya.

Bagas menuturkan, dalam pemasaran EP ini dilakukan secara full-stream. Tapi juga bisa didengarkan dan diunduh di Soundcloud dalam akun Southstar Records.

“Kami ingin mengenalkan musik karya kami. Meski dari daerah tapi kami optimistis bisa survive di genre musik ini,” tutup Bagas yang sudah bergabung dengan band ini sejak duduk di bangku SMAN 1 Wates. (yog/ong)