Telan Biaya Rp 5,8 M

RADARJOGJA.CO.ID— Pemprov DIJ tak main-main dalam menyediakan fasilitas publik bagi wisatawan. Seiring berlangsungnya proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, pemprov mendahului start dengan membangun toilet underground yang juga berstandar internasional. Proyek senilai Rp 5,8 miliar di depan kantor Bank Indonesia itu kini telah memasuki tahap akhir.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP dan ESDM) DIJ Muhammad Mansyur mengatakan, biaya pembuatan toilet yang menjadi bagian konsep pedestrian Malioboro tersebut memang cukup besar. Itu tak lepas dari pemilihan material yang berbeda dari lazimnya toilet umum.

Selain desain arsitekturnya yang modern dan berkelas dunia, fasilitas toilet underground juga lebih lengkap. “Gambarannya seperti yang ada di setiap bandara internasional dan hotel bintang lima,” ujarnya kemarin (13/11).

Arsitektur yang diangkat berupa ornamen inspiratif tentang Jogjakarta. Konsep itu sekaligus untuk menyampaikan pesan dan cerita bagi setiap orang yang sedang menggunakan fasilitas toilet. Dengan begitu toilet tersebut tak sekadar menjadi sarana buang hajat. Tapi tersirat makna dan informasi seputar kearifan lokal Jogjakarta bagi pengunjungnya.

Secara umum toilet underground dibangun bersekat-sekat. Ada pemisahan untuk bilik pria, wanita, dan penyandang disabilitas. Ruang laktasi pun tersedia.

“Lampunya juga ditata agar penerangannya cukup dan merata. Tentunya nanti juga ada penjaganya yang selalu stand by,” ujar pria yang juga menjabat Kabid Cipta Karya.

Dikatakan, proyek toilet underground memakan waktu sekitar delapan bulan. Mansyur berharap toilet umum itu sudah bisa digunakan pengunjung Malioboro di malam pergantian tahun 2017-2018. “Bagian luar tinggal pemasangan kaca,” jelasnya.
Dinas Pariwisata DIJ memiliki proyek serupa. Hanya, biaya yang dikeluarkan tidak sefantastis proyek toilet underground.

Dinpar hanya mengalokasikan anggaran sekitar Rp 720 juta untuk membangun toilet berstandar internasional di empat objek wisata. Di antaranya, Desa Wisata Mangunan, Bantul; Banjaroyo, Kulonprogo, dan Tebing Breksi, Sleman.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanta mengatakan, penyediaan toilet di objek wisata untuk menjawab kebutuhan dan permintaan masyarakat. Khususnya wisatawan dari luar daerah. Terlebih di objek-objek wisata yang sedang diganderungi wisatawan tersebut. DIJ sebagai tuan rumah berusaha memberikan layanan dan fasilitas terbaik. Terlebih untuk memperkuat image DIJ sebagai tujuan wisata. “Makanya fasilitas yang kami sediakan harus berstandar internasional. Termasuk toilet di objek wisata,” ujarnya.

Riyanta optimistis, keberadaan toilet bertaraf internasional di objek wisata bakal memberikan nilai tambah bagi destinasi itu sendiri. Demikian pula objek-objek wisata lain di DIJ.

Terpisah, Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) DIJ Sudiyanto menyambut baik upaya pemerintah dalam memberikan fasilitas berstandar internasional bagi wisatawan. Kendati demikian, Sudiyanto mengusulkan agar konsep pembangunan toilet mengedepankan sisi lokalitas atau unsur nature yang dimiliki DIJ. Supaya kekhasan nuansa Jogjakarta tidak hilang. Dia mencontohkan penggunaan batu alam sebagai perpaduan tembok toilet.(dya/yog)\