KULONPROGO – Sebagian tanah bengkok Desa Kalidengan, Kecamatan Temon bakal dilewati jalur kereta bandara. Lokasi ini juga dijadikan relokasi sistem magersari bagi warga miskin terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Meskipun belum ada kejelasan terkait hal tersebut. Namun kabar mengenai pembangunan kereta bandara melewati Kalidengan sudah menyebar.

“Jalur kereta bandara rencananya sepanjang 5 kilometer. Mulai dari Stasiun Kedundang ke selatan menuju Sidorejo, Desa Glagah. Terminal penumpang bandara rencananya di Sidorejo ini,” kata Kepala Desa Kalidengen Sunardi kemarin.

Berapa luas lahan yang akan dipakai jalur kereta bandara belum jelas. Namun PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah melakukan pengukuran trase di Pedukuhan Kalidengen 2 dan Sidatan.

“Sebagian besar lahan persawahan. Seperlimanya berupa tanah bengkok desa. Sepanjang 400 meter tanah bengkok dengan kelebaran 25 meter. Sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” kata Sunardi.

Pemerintah Desa (Pemdes) Kalidengan mendukung proyek tersebut. Namun belum ada sosialisasi dari PT KAI. Terkait ganti rugi lahan yang terkena jalur kereta bandara juga belum jelas. Kemungkinan melalui proses apraisal (penaksiran).

“Kalau harga tanah per meter di Kalidengen saat ini kisaran Rp 700 ribu. Dulu hanya Rp 300 ribu per meter persegi,” kata Sunardi.

Manajer Humas PT KAI Daops VI Jogjakarta Eko Budiyanto mengatakan pembangunan jalur kereta bandara akan dilanjutkan. Pekerjaan fisik memang belum dilakukan.

“Itu (pembangunan jalur kereta bandara) sudah pasti. Positif dibangun. Saat ini masih dalam tahap pemetaan,” kata Eko.

Pengerjaan jalur kereta bandara dilakukan bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura (AP) I sebagai pemrakarsa bandara.

“Namun tahapan itu baru akan dilakukan ketika pembangunan fisik bandara sudah jalan lebih dari separo. Kami menunggu realisasi pembangunan fisik NYIA hingga 80 persen. Baru jalur kereta bandara akan kami bangun,” kata Eko.

Sebelumnya, Direktur Teknik AP I Polana B Pramesti mengatakan jalur kereta bandara membutuhan lahan hingga 25 hektare. PT KAI sudah melakukan rancang letak stasiun, studi level tanah, serta perencanaan trase jalur.

Project Manager Pembangunan NYIA Sujiastono mengatakan kereta bandara dibangun terintegrasi. Sehingga memudahkan pengguna menuju NYIA maupun ke Kota Jogja.

Pembangunan terminal paralel dengan pembangunan runway. AP I masih fokus pembersihan lahan untuk bandara. Selain Desa Kalidengen, desa lain di Kecamatan Temon juga terkena jalur kereta bandara, yakni Desa Kulur, Kaligintung dan Glagah. (tom/iwa/ong)