SUASANA halaman Radar Jogja dipenuhi ratusan anak-anak usia Pen-didikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), dan Sekolah Da-sar (SD) kemarin. Mereka bukan sedang bermain, namun ikut lomba meng-gambar dan mewarnai.

Lomba tersebut digelar Radar Jogja bersama BPD DIY dan PT Pegadaian DIY. Sekaligus memperingati Hari Pahlawan dan memeriahkan HUT Ke-71 Kelurahan Condongcatur Depok Sleman, Minggu (12/11).

Diikuti lebih dari 250 anak dari ber-bagai daerah. Lomba ini menarik, karena menggunakan media gambar berupa kertas koran. Pada kategori menggambar kelas 4-6 SD, juara per-tama diraih siswi kelas 5 SD Balecatur Gamping Sleman Intan Wahyu Ku-sumaningrum.

“Baru kali ini pakai kertas koran. Awal-nya sulit, karena kertasnya tipis. Jadi harus hati hati, takut kalau kertasnya sobek,” ujar Intan.

Intan menggambar suasana ulang tahun dengan objek utama badut dan Semar. Memakai perpaduan gradasi warna-warna cerah menggunakan pastel.

Sedangkan pelajar SDN Perumnas Condongcatur Farah Nada meng-gambar wayang dan tulisan aksara jawa. Mengapa dia mengambar objek gambak tersebut? “Soalnya saya suka nonton Mahabharata di tele-visi,” ujar Farah.

Salah satu orang tua peserta lomba, Alwik, mengatakan kedua anaknya ikut lomba tersebut. Me-reka, Muhammad Torres yang masih duduk di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Chelsia ke-las empat sekolah dasar.

Kata Alwik, kedua anaknya ikut lomba tersebut karena suka meng-gambar dan mewarnai. “Senang bisa mengantar dua anak saya. Chelsia suka menggambar dan Torres telaten kalau mewarnai,” kata Alwik.

Meski sempat hujan, peserta lomba tetap antusias menyelesaikan karya-nya. Di sela hujan, mereka dihibur penampilan badut bermain sulap, games dan menyanyi bersama.

Agar penilaian objektif, didatangkan tiga juri. Masing-masing Dona Prawita Arissuta (perupa), Yully Widianto (perupa), dan Herpriyanto (Redaktur Artistik Radar Jogja).

Herpri mengatakan kreativitas peserta begitu lepas dan beragam. Gaya goresan mereka yang alami perlu diberi ruang.

“Sehingga kemampuan tersebut tidak hanya didominasi olrh anak-anak yang ikut sanggar melukis. Pe-serta yang mengangkat kearifan lokal menjadi nilai tambah penilaian,” kata Herpri.

Alasan yang disebutkan Herpri ter-sebut yang akhirnya menjadi penilaian utama karya dari peserta. “Itulah mengapa, ada pemenang dari segi warna dan objek kurang menarik. Namun unggul pada ide mengambar kearifan lokal,” kata Herpri.

Tema lomba tersebut Ulang Tahun. Peserta dibebaskan berkreasi. Mengeks-presikan imajinasi lewat gambar yang mereka buat.

“Ada peserta yang memiliki ide baru dan menarik, seperti menggambar gerobak sapi, wayang punakawan, dan aksara Jawa. Itu yang menjadi keung-gulan dan dia bisa menang,” ujar Her-priyanto. (mg5/iwa/ong)