JOGJA – Jajaran Satuan Reserse Narkoba Polresta Jogjakarta memeriksa sebuah apotek di daerah Mantrijeron, Jogja yang diduga mengeluarkan obat jenis Alprazolam dalam jumlah cukup besar. Pemeriksaan tersebut dilakukan, terkait adanya laporan dari masyarakat atas dugaan penyalaangunaan psikotropika golongan IV.

Kasat Resnarkoba Polresta Jogjakarta Kompol Sugeng Riyadi mengatakan, keberadaan apotek tersebut disinyalir sering menjadi rujukan untuk mengambil obat penenang. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Satresnarkoba, dalam sehari rata-rata ada 150 resep dokter yang diterima untuk menebus obat tersebut.

“Kebanyakan yang ditebus alprazolam generik,” jelas Sugeng Selasa malam (31/11).

Menurutnya, untuk penebusan Alprazolam, apotek tidak mengeluarkan secara sembarangan. Setiap Alprazolam yang keluar harus berdasarkan resep dokter. “Sekali tebus satu papan terdiri dari sepuluh pil,” jelas pria berkumis ini.

Alprazolam sendiri merupakan obat golongan benzodiazepine yang biasanya untuk mengatasi gangguan kecemasan dan serangan panik. Golongan obat ini bekerja untuk menekan sistem saraf pusat.

Selain memeriksa apotek, jajarannya pun meminta klarifikasi terhadap para pemuda yang menebus obat di apotek tersebut. Guna pendalaman, ke lima pemuda tersebut diperiksa di Mapolresta Jogjakarta.

Salah seorang pengonsumsi obat, DP saat ditemui di Ruang Satres Narkoba Polresta Jogja mengaku bahwa dirinya memiliki gangguan tidur. Untuk mengatasinya, dokter memberikan resep obat tersebut untuk mengatasi gangguan tidurnya.

Bila tidak mengonsumsi obat tersebut, dia baru bisa terlelap saat pagi hari. Setelah menelan satu butir obat tersebut per hari, bisa tertidur pulas ketika malam hari.

“Kalau tidak minum obat, susah tidurnya kambuh lagi,” jelas warga Gayam, Jogja yang mendapatkan obat tersebut dari seorang dokter yang membuka praktek di Jalan Kaliurang.

Begitu juga dengan salah seorang pemuda yang enggan menyebutkan identitasnya. Dirinya mengaku sudah cukup lama mengonsumsi obat tersebut. “Sudah tahunan mengonsumsi, karena saya mengalami kesulitan tidur,” jelasnya.

Dia mengaku membeli obat tersebut selalu dengan resep dokter. Selama ini, sudah ada dokter langganannya yang memberikan resep tersebut.

Dikatakan, bila tidak mengonsumsi obat tersebut, dia merasa gelisah dan depresi. Dan untuk mengatasinya, dengan mengonsumsi obat tersebut. “Sebenarnya ingin sembuh, namun dokter memberikan resep obat tersebut,” jelasnya.

Meski terbukti mengonsumsi obat tersebut, ke lima pemuda tersebut dibebaskan karena tidak melanggar hukum. Menurut Sugeng, ke limanya mengonsumsi atas resep dokter. (bhn/ila/ong)