PURWOREJO – Kendaraan dengan kapasitas sedang dikerahkan sejumlah jajaran di Purworejo untuk mengangkut penumpang kemarin (1/11). Ini menyusul aksi mogok masal yang dilakukan angkutan umum di Kabupaten Purworejo yang tergabung dalam Forum Komunikasi Angkutan Umum (FKAU), memprotes keberadaan angkutan online.

Pantauan Radar Jogja, kendaraan yang diturunkan meliputi berbagai jenis, mulai pikap, truk, hingga kendaraan biasa. Angkutan ini menyisir dalam kota dan pinggiran yang menjadi konsentrasi pengumpulan siswa sekolah. “Memang cukup merepotkan kalau tidak ada Kopada (angkutan) Mas. Harusnya sudah nggarap tahu, tapi sekarang masih di sini,” ujar
Rubiyah, pedagang tahu di Pasar Kongsi yang menunggu angkutan di depan SD Maria.

Menurutnya, dari Pasar Kongsi ia mendapat tumpangan dari Polsek Purworejo Kota. Karena kendaraan diarahkan menuju Purwodadi, sementara dirinya menuju arah Grantung Kecamatan Bayan, terpaksa harus berganti kendaraan.

Kondisi serupa dialami teman pedagang dari Grantung lainnya yakni Suliyah, Romi dan Suripah. Mereka terpaksa menunggu angkutan lain demi mencapai rumahnya.

Adanya aksi mogok masal ini juga memberikan pengalaman khusus bagi Riski Dwi Ananda, 13, siswa SMPN 4 Purworejo. Kesempatan mendapat tumpangan mobil Dalmas Polres Purworejo dijalaninya untuk pertama kalinya.

“Saya belum pernah naik truk polisi, ya baru kali ini. Memang ada hal yang berbeda,” kata Riski yang hendak pulang ke Desa Brondong, Kecamatan Purwodadi.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Purworejo Kompol Setiyoko yang melakukan pantauan langsung pengangkutan penumpang mengatakan, kendaraan yang dikerahkan ke jalan mulai pukul 12.00. Hal ini untuk mengangkut siswa sekolah yang hendak pulang.

“Rencananya akan dua kali kerja di mana untuk mengangkut anak-anak SMP dan SD. Dan sore harinya untuk siswa SMA/SMK,” kata Setiyoko. Berdasarkan rapat koordinasi, dilakukan pembagian tugas antara Polres, Satpol PP, BPBD, Kodim, dan Dishub Purworejo. Mereka dikonsentrasikan di tempat strategis yang menjadi titik keberangkatan
menuju ke wilayah pedesaan dari dalam kota.

“Semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Bahkan kita mendapat dukungan dari berbagai komunitas yang turut membantu melakukan pengangkutan,” kata Setiyoko. (udi/laz/ong)