RADARJOGJA.CO.ID – Pembangunan pariwisata selain menghasilkan kemajuan kehidupan umat manusia, juga berdampak pada lingkungan, sosial, dan budaya. Penggunaan sumber daya berlebihan meningkatkan risiko sosial, budaya, dan lingkungan. Karenanya, masa depan pariwisata sebagai aktivitas universal dan pembangunan pariwisata terancam praktik kegiatan dan pembangunan pariwisata yang tidak berkelanjutan.

Hal tersebut diungkapkan Dadang Rizki Ratman, Dadang Rizki Ratman, usai konferensi International Conference on Sustainable Tourism (ICST) 2017 di Jogjakarta, Rabu (1/11).

“Sustainable Tourism Development sebagai prinsip dan panduan bertindak untuk mewujudkan Sustainable Development Goals. Terutama soal penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Juga bertanggungjawab pada konsumsi dan produksi,” tegas Dadang yang mewakili menteri pariwisata.

Selain itu, peserta ICST 2017 juga melahirkan Jogjakarta Declaration, yang salah satu isinya adalah mengembangkan dan menerapkan model bisnis pariwisata yang berkelanjutan.

Sementara itu, ketua panitia dari UGM Dr Hendrie Adji Kusworo menambahkan, dalam konteks Indonesia, juga disepakati untuk membentuk Tourism Corporate Forum for Sustainable Tourism Development, serta mengembangkan dan memanfaatkan Dashboard Sustainable Tourism dan Digital Tourism.

“Termasuk memperluas keterlibatan stakeholders dalam system apresiasi atau penghargaan dan sertifikasi,” kata Adji.

Kementerian Pariwisata RI menyebut sudah ada 32 daerah yang komit untuk mengimplementasikan sustainable tourism.

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) yang mewadahi beraneka organisasi yang terkait industri pariwisata komit untuk berpartisipasi dalam pembangunan industri pariwisata berkelanjutan dengan mengacu pada prinsip pariwisata berkelanjutan.

“Sustainable tourism bertujuan untuk mendapatkan happiness. Itulah tren para wisatawan saat ini,” ungkap ketua GIPI Didin Jaya.

Acara yang digagas Kementerian Pariwisata RI bersama lembaga internasional United Nations Sustainable Development Solutions Network (UN-SDSN) dan United In Diversity (UID) ini berlangsung selama 2 hari dan dihadiri Menparsenibud 1998-1999 Marzuki Oesman, Menbudpar 2001-2004 I Gde Ardhika, dan Menparekraf 2011-2014 Mari Elka Pangestu. Pada penghujung konferensi, juga diberikan penghargaan pada pemenang UID- SDSN Award yang jatuh pada Bintang Sejahtera Waste Management. Bintang Sejahtera untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Pembangunan Ekonomi Bank Sampah Bintang Sejahtera berkontribusi dalam pengembangan Provinsi NTB dan memberikan alternatif mengatasi masalah ekonomi sosial melalui program pengelolaan limbah berbasis masyarakat dan pendekatan kewiraswastaan ​​sosial. Mereka menciptakan kesadaran masyarakat, memberikan solusi untuk masalah limbah dan lingkungan, memberdayakan masyarakat dan memberikan kesempatan kerja bagi orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mereka juga mengenalkan konsep mengubah sampah menjadi uang tunai dan tabungan ke masyarakat, sekolah, organisasi lokal dan bisnis swasta,” ungkap Mari Elka.

Bintang Sejahtera memiliki 35 unit bank sampah yang beroperasi dengan baik di bawah jaringannya. Lembaga ini mampu menyediakan lapangan kerja untuk lebih dari 40 ibu rumah tangga, 14 pria, dan sekitar 30 orang relawan. Sistem pengelolaan limbahnya bisa memproses hingga 28 ton limbah anorganik dan 25 ton sampah organik setiap bulannya.(hes)