Perdalam Ilmu Agribisnis dan Pengolahan Limbah Ternak

MUNGKID- Sebanyak 149 mahasiswa tingkat 2/semester III Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Peternakan (Jurluhnak) menyelenggarakanfieldtripdi kawasan Eduwisata Peternakan Terintegrasi Kampung Sapi PO Sitiadi, Kebumen, Jawa Tengah, Senin (30/10).

Kegiatan tersebut sebagai bagian praktik kerja lapangan dala rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya pada mata kuliah Perencanaan Agribisnis, Nilai Tambah, dan Pengelolaan Limbah.

Didampingi empat dosen dan enam staf STPP Magelang Jurluhnak, mahasiswa juga mengunjungi Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Baturaden, Banyumas, dan Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Cilacap.

“Program ini bertujuan menjamin mutu dan kualitasout putmahasiswa setelah lulus,”‘ ujar Wakil Ketua II STPP Magelang drh Yudiani Rina Kusuma MP.

Dengan pengalaman praktik lapangan, lanjut Rina, sapaan akrabnya, mahasiswa tak hanya mendapatkan pembelajaran di kelas. Tapi juga bisa melihat permasalahan seputar peternakan, sekaligus mencari solusinya. Di sisi lain, mahasiswa lebih mendapatkan informasi terkait aturan hukum dalam hal perkarantinaan ternak untuk kepentingan ekspor dan impor.

Sesampai di kawasan eduwisata rombongan dikenalkan dengan sapi PO (Peranakan Ongole) oleh ketua kelompok tani setempat, Hadi Waluyo. Dijelaskan, sapi PO memiliki cirri-ciri gelambir yang menyambung hingga perut, dahi lebih menonjol (nonong), serta moncong dan ujung ekornya hitam. “Di sini kami juga mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organic untuk tanaman sekitar eduwisata,” ungkap Hadi.

Menurut Hadi, kawasan eduwisata yang diresmikan Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad pada Kamis (19/10) lalu mendapat respons positif masyarakat. Selain untuk pembudidayaan sapi PO unggulan Kebumen, eduwisata dibangun sebagai sarana penelitian dan produksi bibit unggul sapi PO di Indonesia.

Sementara di Balai Besar Besar Pembibitan Ternak Unggul Baturaden, Kasi Informasi Heri Supriadi memaparkan proses pemeliharaan dan produksi hasil ternak hingga pengolahan pascapanen. Mahasiswa juga diajari teknik pembibitan sapi perah, perawatannya, sampai cara umbaran. Teknik memerah susu dengan mesin perah otomatis juga diajarkan. “Lembaga kami memang merupakan UPT Kementerian Pertanian yang fokus pembibitan sapi perah. Tak kurang 500 ekor sapi kami kelola,” ujarnya.

Sementara di Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas II Cilacap, mahasiswa STPP mempelajari operasional dokumen keluar masuk impor-ekspor dan domestik, serta standar mutu produk yang harus dimiliki oleh para pelaku usaha peternakan. Rombongan juga mendapatkan pengarahan dan penjelasan seputar tempat karantina hewan di pelabuhan dan kandang karantina ternak sebelum diedarkan kepada masyarakat agar lolos seleksi, baik kesehatan maupun surat-menyurat asal ternak.(*/yog/ong)