Kembalikan ke Nilai Awal, Merekatkan Keguyuban dan Kegotongroyongan

Tradisi merti desa atau lebih dikenal dengan Jolenan Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, diserbu ribuan warga dari berbagai penjuru kemarin (31/10). Masyarakat berebutan aneka makanan olahan dan hasil bumi di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakkan sejauh 7 km itu.
BUDI AGUNG, Purworejo
Tradisi dua tahunan yang diperingati setiap bulan Sapar di hari Selasa Wage ini sebagai bentuk ucapan syukur atas hasil bumi yang diperoleh warga. Desa Somongari selama ini dikenal sebagai sentra penghasil manggis dan durian serta hasil bumi lainnya.

Jolenan sendiri berasal dari akronim Jawa “ojo lalen” atau jangan lupa terhadap Sang Pencipta yang telah memberikan kesuburan dan curahan hasil yang melimpah. Jolenan atau Saparan bisa dikatakan pula sebagai bentuk doa agar kesejahteraan dan keselamatan warga Somongari tetap terjaga.

Dibandingkan sebelumnya, tahun ini terasa istimewa karena panitia penyelenggara lebih mengetatkan aturan keikutsertaan jolen. Pemanfaatan kembali bambu dan janur atau daun pisang menggantikan kayu permanen yang sebelumnya kerap dipakai. Hiasan harus dari alam dan diharamkan penggunanan bahan-bahan jadi yang tinggal dipasang.

“Kami ingin mengembalikan semangat kebersamaan di antara warga. Membuat jolen dari bambu itu perlu kebersamaan dan gotong royong di antara banyak warga. Ada pembagian tugas di mana ada yang membuat jolen, menghias dan sebagainya,” kata sekretaris kegiatan Kemijo Sosro Wijoyo.

Bentuk penghargaan atas kerja keras dan gotong royong warga diapresiasi panitia. Hadiah uang tunai diberikan atas penilaian terhadap bentuk, isi, dan penggotong jolen. Dari 43 jolen yang tampil, tiga jolen terbaik mendapatkan hadiah uang tunai. Terbaik pertama Rp 1 juta, kedua Rp 900 ribu, dan ketiga Rp 800 ribu. Masih ada tiga nominasi lagi yang masing-masing mendapatkan Rp 600 ribu untuk jolen bertahan, jolen paling kreatif, dan penggotong terbaik.

Pelaksanaan jolenan sendiri berlangsung semarak, karena tidak sekadar mengarak. Panitia melibatkan beberapa bentuk kesenian lokal, di antaranya, kuda kepang, dolalak, dan cing po ling. Hiburan modern tetap disuguhkan berupa penampilan drumband dari sekolah dasar setempat.

“Kalau ditanyakan kenapa kegiatan ini dilaksanakan dua tahun sekali, ya karena memang biayanya cukup besar. Di sini tidak ada anggaran dari desa. Dana diperoleh dari iuran warga yang mencapai Rp 50 jutaan itu di luar jolen. Karena satu jolen kalau dirupiahkan bisa habis Rp 500 ribu- Rp 600 ribu,” tambah Kemijo.

Jolenan yang dihadiri langsung Bupati Agus Bastian, Kapolres AKBP Teguh Tri Prasetya dan jajaran muspida serta OPD (Organisasi Perangkat Daerah), mendapat perhatian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mewakilkan pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, perhelatan jolenan kemarin juga ditandai dengan penyerahan Surat Penetapan Jolenan Somongari sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonenesia oleh Mendikbud.

Sertifikat bertanggal 27 Oktober 2016 dengan nomor 63379/MPK.E/KB/2016 diserahkan oleh perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Tengah Bambang Supriyono kepada Bupati Agus Bastian.

“Adanya penetapan ini bukan berarti tugas bapak ibu sekalian selesai. Pemkab harus selalu mengaktualisasi jolenan Somongari melalui berbagai kegiatan, di antaranya, kirab budaya, seminar, dialog, workshop dan kegiatan lain yang berdampak pada perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan jolenan Somongari sebagai kebanggaan masyarakat Kabupaten Purworejo,” ungkap Bambang.

Kepala Desa Somongari Mistiyah mengaku bersyukur tradisi jolenan tetap bisa dilaksanakan dan semakin meriah dari waktu ke waktu. Hal itu menunjukkan kepedulian dan rasa memiliki warga atas tradisi itu tetap tinggi.

“Banyak harapan dari kami atau pun warga. Karena kita hidup menggantungkan dari alam, makanya kita juga harus banyak-banyak bersyukur kepada Sang Pencipta,” kata Mistiyah.

Di lain pihak, Mistiyah berharap agenda dua tahunan ini akan lebih mendapat perhatian dari pemkab. Adanya dukungan dan pendampingan baik moril maupun materiil, akan sangat membantu kegiatan jolenan di mana bisa dijadikan salah satu kalender budaya di Purworejo guna mendukung Romansa Purworejo 2020. (laz/ong)