Mengajar Anak Membaca, Membuat Jalur Evakuasi, hingga Melatih Membuat Kue

Mengabdi di wilayah terpinggir, terluar, dan terpencil. Kiranya itulah yang mendorong anggota Mapala Madawirna Universitas Negeri Yogyakarta “turun gunung” menyambangi warga Nabire, Papua. Berikut pengalaman mereka selama 2,5 bulan tinggal di Bumi Cenderawasih.
SUKARNI MEGAWATI, Jogja
Bukan perkara mudah bagi enam mahasiswa pecinta alam (Mapala) UNY ini hingga memutuskan merantau ke Papua. Berawal dari informasi minimnya sarana pendidikan dan tenaga pengajar di sana membuat hati mereka terhenyak. Adalah Isna Alfiyah, Muh Dzaki Alfandi, Novi Handoko, Sevi Dwi Nugrahni, Freggiyanto Bayu Satria, dan Yosi Sugito.

Umumnya tim ekspedisi mapala lebih banyak melakukan pengembaraan di hutan gunung. Namun tidak demikian bagi keenam Mapala Madawirna itu. Bermodal tekad yang dibalut keprihatinan akan kondisi pendidikan di wilayah Kwatisore, Nabire, mereka pun berangkat ke Papua. Itulah tim Ekspedisi Dharma UNY Nusantara (EDUN).

“Di sana semua serba terbatas. Selain sarana, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi masalah utama,” ungkap Novi mewakili rekan-rekannya, Rabu (26/10). “Anak-anak biasa ikut orang tua mereka bekerja,” lanjutnya.

Secara geografis, Nabire didominasi kawasan pesisir pantai. Namun, mata pencaharian utama masyarakat setempat bukanlah mencari hasil laut. Tapi berburu di hutan. Warga setempat menamakannya sebagai tempat pencarian. Di dalam hutan mereka tinggal berminggu-minggu. Karena itulah sekembali ke permukiman dan masuk sekolah, anak-anak tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Bahkan, banyak anak yang enggan bersekolah. “Makanya tak heran jika di sana banyak remaja tak lancar membaca. Bahkan ada yang tak bisa mengurutkan huruf abjad,” kenang mahasiswa Pendidikan Teknik Boga semester lima ini.
Tim EDUN pun harus kerja keras dan memeras otak untuk menarik minat belajar anak-anak Kwatisore. Mereka lantas melakukan pemetaan permasalahan pendidikan dari berbagai sudut pandang dan unsur-unsurnya. Seperti ketersediaan guru, keberadaan siswa, peran orang tua, pemerintah, dan sarana-prasarana.

Akhirnya, tim memutuskan membuat program belajar sambil bermain di alam. Itu pun tidak tiap hari. Seminggu hanya tiga kali. Tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Belajar di luar ruangan agar anak-anak tidak bosan. Terlebih, kehidupan anak-anak tersebut sangat dekat dengan alam liar.

Metode ini ternyata membuahkan hasil. Kelas di SD Kwatisore yang biasanya hanya diisi dua sampai empat anak mulai ada penambahan. Tiap kelas rata-rata delapan anak. “Paling berkesan jika menghadapi anak-anak yang menangis. Butuh trik-trik khusus agar mereka tenang,” cerita pemuda yang hobi olahraga ini.
Itulah hari-hari yang dijalani tim EDUN selama berada di Tanah Papua.

Perbedaan budaya, bahasa, kebiasaan, dan adat-istiadat tak menyurutkan tekad tim EDUN ketika berada di Nabire. Selain menyasar anak-anak, tim EDUN melakukan pembinaan masyarakat setempat. Seperti membuat pojok baca yang bertujuan menyediakan bahan literasi bagi para orang tua. “Pojok baca untuk menggugah masyarakat sadar membaca. Karena membaca adalah pintu dari semua wawasan,” ungkap Fita Ardiana, ketua pelaksana EDUN.

Kemampuan tim EDUN sebagai mapala pun diterapkan di Kwatisore. Mereka melatih warga setempat dengan ilmu dan keterampilan mitigasi bencana. Juga membuat jalur evakuasi tsunami. Itu mengingat wilayah Nabire berada di jalur pantai. Selain membekali dengan ilmu mitigasi bencana, tim EDUN menanamkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan bahaya tsunami dan membangun sarana pencegahan bencana.

Ibu-ibu rumah tangga pun mendapat pendidikan khusus dari tim EDUN. Ya, mereka diajari membuat kue-kue modern yang sejauh ini tak ada warga Kwatisore pernah mencicipinya. Seperti kue kukus merekah, brownies coklat, hingga bolu pisang.
Sebagai anggota mapala, mendaki gunung tentu menjadi suatu keharusan. Demikian pula yang dilakukan tiga dari enam tim EDUN. Mereka adalah, Freggiyanto Banyu Satria, Novi Handoko, dan Muh Dzaki Alfandi, yang mendaki puncak tertinggi Indonesia, yakni Carstensz Pyramid (4.884 mdpl).

Kisah sukses tim Edun mendapat acungan jempol pimpinan UNY. Bahkan, pihak kampus berencana melanjutkan kerja sama dengan Pemerintah Nabire dalam pengembangan pendidikan. “Kami pilih Nabire karena kondisi medan yang sulit. Tak semua mau dan berani ke sana, tapi UNY justru memilih tantangan itu,” ujar Wakil Rektor III UNY Prof Dr Sumaryanto MKes saat menambut kepulangan tim EDUN, Rabu (25/10).

Sementara bagi Wakil Rektor I Prof Dr Margono MHum MM, tim EDUN tak hanya sukses menyelesaikan program pembinaan pendidikan bagi masyarakat Nabire. Tim juga sukses merampungkan misi ekspedisi, penelitian, pengabdian masyarakat, sekaligus pendakian puncak tertinggi Indonesia. “Kami punya 28.776 mahasiswa. Tapi hanya enam orang ini yang mampu ke sana (Papua). Ini prestasi yang pantas kami banggakan,” ungkapnya.(yog/ong)