KULONPROGO – Dua rumah joglo dan sebuah pringgitan di Dusun Kretek, Glagah, menjadi kelas baru bagi 108 siswa SDN 3 Glagah mulai kemarin (23/10). Tiap joglo dan pringgitan disekat menjadi dua bagian untuk kelas. Jadi total ada enam kelas darurat. Itulah gedung sekolah sementara bagi pelajar terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu. Gedung sekolah lama di Dusun Kepek harus dirobohkan dan digusur demi megaproyek bandara.

Siswa pun menjadi korban. Mereka harus jalan kaki lebih jauh ke “sekolah baru” yang berjarak sekitar satu kilometer dari gedung lama. Segala keterbatasan fasilitas di joglo tersebut mengganggu psikologis siswa. Apalagi mereka harus belajar di ruangan yang minim penerangan. Hal itu membuat sebagian siswa sulit beradaptasi.

“Fasilitasnya tidak memadai dan kurang luas. Sulit konsentrasi, karena antarruang kelas hanya disekat dengan almari. Suara kelas sebelah terdengar keras di sini,” keluh Rafiq Mustafa, siswa kelas VI.

Sebagaimana siswa lainnya, Rafiq berharap bisa pindah ke ruang kelas sesungguhnya, sebagaimana gedung sekolah umumnya.
Harapan Rafiq sepertinya bertepuk sebelah tangan. Sebab, Pemkab Kulonprogo tak sepenuhnya siap mengalihkan tempat pendidikan siswa ke lokasi yang lebih layak dalam waktu dekat.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulonprogo Sumarsana menyatakan, pemkab mengalokasikan dana hingga Rp 4 miliar untuk pembangunan gedung sekolah baru SDN 3 Glagah di lahan seluas dua ribu meter persegi. Hanya, sesuai rencana proyek tersebut baru akan dikerjakan pada 2018.

Artinya, para siswa bisa pindah ke gedung baru paling cepat pada semester kedua Tahun Ajaran 2018/2019. Sambil menunggu sekolah barunya dibangun, mereka harus belajar di sekolah sementara tersebut selama kurang lebih setahun.

Sumarsana berjanji akan terus memantau kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa. Khususnya untuk melihat kemungkinan adanya kendala maupun kekurangan dalam proses KBM. Di sisi lain, dia meminta dukungan semua pihak agar para siswa bisa belajar dengan senang dan tenang di rumah joglo milik warga Dusun Kretek.

Sementara itu, keluhan siswa disambut beribu asa oleh Kepala Sekolah SDN 3 Glagah Siti Aisyah. Sri optimistis, kondisi yang dihadapi saat ini tak akan membuat prestasi siswa menurun.”Tetap semangat ya anak-anakku,” ucap Aisyah kepada anak didiknya di hari pertama mereka menghuni sekolah sementara.

Melihat semangat belajar para siswa, Sri mengaku perasaannya campur aduk antara senang dan haru. “Senang karena banyak yang peduli dengan kami, tapi sedih juga karena anak-anak harus meninggalkan sekolah lama,” ungkapnya.

Tak hanya siswa SDN 3 Glagah dan warga terdampak NYIA yang dibuat repot dengan proyek pembangunan bandara baru. Masyarakat yang bisa mendapatkan layanan kesehatan di Puskesmas Temon II pun harus siap mendapatkan perawatan medis di rumah penduduk. Sebagaimana SDN 3 Glagah, gedung puskesmas dipindah ke salah satu rumah warga Dusun Plempukan, Sindutan mulai besok (25/10). Sedangkan gudang obat-obatan dan penyimpanan alat kesehatan menggunakan Balai Desa Palihan. Sebab gedung puskesmas lama juga tergusur proyek mercusuar bandara.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Palihan Agus Bintoro mengatakan, balai desa akan dipakai melayani pasien hingga gedung baru puskesmas selesai dibangun. “Sementara ini tidak masalah, nanti kalau ada pertemuan kami akan menggunakan balai desa bagian depan saja,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Bambang Haryatno mengatakan, pembangunan gedung Puskesmas Temon II masuk skala prioritas di 2018. Sejauh ini puskesmas tersebut diakses oleh warga dari beberapa desa, yakni Palihan, Sindutan, Jangkaran, Janten, Karangwuluh, Kebonrejo dan sebagian warga Desa Glagah.

Pemkab mengalokasikan anggaran sekitar Rp 5,5 miliar dari pos dana alokasi khusus untuk membangun gedung puskesmas baru.

“Puskesmas sementara di Balai Desa Palihan dengan sistem sewa,” jelasnya. (tom/yog/ong)