Perlu diketahui bahwa ‘gegar jiwa’ dan kegoncangan psikologis yang menimpa seseorang selama menempuh proses perceraian dan menjalani kehidupan paska perceraian, terjadi dalam beberapa tahapan yang mau atau tak mau harus dilalui. Wajarlah kiranya jika hal ini terjadi, manakala perceraian dipahami sebagai sebuah kehancuran yang memporak-porandakan rumah tangganya sekaligus berakhirnya mahligai perkawinan yang telah bertahun – tahun dibinanya.

Secara umum, perasaan sedih, marah atas apa yang telah terjadi, bercampur dengan perasaan amarah bahkan berujung pada dendam yang tersimpan di hati yang paling dalam. Di perkembangan selanjutnya, lalu muncul sebersit perasaan bersalah yang kemudian juga melahirkan kebimbangan dan keraguan atas keputusan yang telah diambil, sehingga bahkan terkadang timbul keinginan untuk melakukan ‘renegosiasi’ langkah – langkah rekonsiliasi dengan mantan pasangan untuk ‘kembali’.

Fase ini diyakini sebagai bentuk pengingkaran atas hampir segala yang sebenarnya telah terjadi dan mencoba mencari alternatif – alternatif yang kadang tak masuk di akal dan terkesan hanya sebagai upaya pembenaran yang dipaksakan. Tak heran pula jika seseorang yang tengah atau baru saja bercerai mengalami depresi yang acapkali memunculkan kondisi – kondisi atau tindakan – tindakan yang tidak diinginkan. Yang di saat ‘genting’ seperti inilah sebenarnya dukungan dan bantuan dari pihak – pihak lain sangat dibutuhkan.

Selain keluarga terdekat atau sahabat erat, keterlibatan individu yang memiliki kemampuan di bidang ilmu psikologi atau justru pihak – pihak lain yang memiliki pengalaman serupa, sangat dibutuhkan untuk setidaknya memberikan sebentuk dukungan moral serta penguatan – penguatan pada sisi psikis seseorang yang tengah atau baru saja menjalani perceraiannya.

Perasaan ‘sendirian dan paling nestapa di dunia’ yang biasanya muncul pada diri seseorang yang tengah dan baru saja menjalani pernikahan, adalah perasaan yang paling ‘mematikan’ akal sehat atau logika, sekaligus menggerus nurani serta teramat sangat menyakitkan.

Hal ini sebenarnya perlu dipahami oleh orang – orang terdekat yang ada disekitarnya, terutama keluarga, agar kemudian bisa mendekati dan sedikitnya bisa memberikan penghiburan apabila tidak bisa memberikan petunjuk jalan keluar atau sebuah solusi.

Foto saat Pengurus Pusat dan anggota SPINMOTION Jogja menjamu salah satu anggota dari Jakarta (06/10)

SPINMOTION (Single Parents Indonesia in Motion), didirikan dengan dasar keyakinan yang kuat tentang terjadinya kondisi – kondisi kejiwaan yang ‘ekstrim’ dalam diri para pelaku perceraian yang selayaknya mendapatkan bantuan dan dukungan dalam berbagai bentuknya dari siapapun.

Karena tidak jarang, kondisi – kondisi kejiwaan yang goncang dan tidak tertahankan ini, bisa mengakibatkan depresi berat yang menuju pada tindakan yang merugikan diri sendiri bahkan sebuah tindakan bunuh diri. Dengan jumlah anggota yang terus berkembang dan dengan berbagai macam latar belakang gender, usia, pekerjaan, agama, suku dan domisili yang hampir mewakili seluruh pulau besar di Indonesia, komunitas ini mampu memberikan ruang untuk berbagi, saling bertukar informasi bahkan bantuan dan dukungan moral bagi sesama anggota.

Bahkan setelah berjalan 2 tahun lebih, kini kehadiran SPINMOTION telah dianggap sebagai sebuah ‘keluarga baru’ bagi beberapa anggotanya yang merasakan manfaat berkomunitas dengan sesama single parents yang sebagian besar sudah pernah menempuh ‘prahara’ rumah tangga yang berujung pada perceraian mereka masing – masing.

Dengan mengedepankan solidaritas dan empati, komunitas ini terus tumbuh dan mengembangkan diri untuk selalu bisa menjadi ‘rumah baru’ bagi para single parents di Indonesia. Karena sebuah dasar keyakinan bahwa hanya dengan semangat solidaritas yang didasari rasa empati yang tinggilah sebuah komunitas bisa hidup dan menghidupkan.(ong)
Ditulis oleh : Yasin bin Malenggang, Ketua dan Pendiri SPINMOTION