GUNUNGKIDUL – Kebun bunga amarilis di Desa Salam, Kecamatan Patuk mencapai puncak keindahannya kemarin. Ladang kembang yang tertanam di lahan seluas 5.000 meter persegi itu mekar bersamaan.

Bunga tersebut mekar serampak sejak dua hari lalu. Jika dilihat dari jalan Jogjakarta-Wonosari, saat ini pemandangannya sangat menakjubkan. “Mekar semua, dan sekarang jumlah bungannya lebih banyak dibanding 2015,” kata pemilik lahan, Sukadi, kemarin (11/10).

Dia senang karena penambahan lahan dari semula 2.300 meter persegi menjadi 5.000 meter persegi hasilnya memuaskan. Merekahnya bunga amarilis jauh lebih menarik ketimbang tahun sebelumnya. Supaya tetap terjaga keindahannya, Sukadi sudah menyiapkan spot foto untuk pengunjung.

“Tempat foto sederhana supaya pengunjung bisa foto tanpa harus merusak tanaman,” kata Sukadi.

Untuk dapat menikmati pesona Puspa Patuk, demikian warga setempat menyebut nama lokal bunga amarilis tersebut, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam.

“Cukup dengan membayar parkir. Penghasilan uang parkir itu pun juga bukan untuk saya sendiri, karena ada pengelola,” kata Sukadi.

Kepada pengunjung, Sukadi mengingatkan agar tetap menjaga ketertiban dan mencintai lingkungan. Dengan demikian keindahan bunga amarilis bisa dinikmati dengan menyenangkan.

“Bunga amarilis ini prediksi saya hanya mampu bertahan mekar satu minggu hingga dua minggu,” kata Sukadi. Kepada wisatawan, dia menyediakan bibit bunga amarilis dengan harga satu pot Rp 3.000.

Camat Patuk Haryo Ambar Suwardi mengatakan tren bunga amarilis langsung direspons cepat warga dengan membuat motif batik. Motif batik bunga amarilis, sudah mendapatkan hak paten. “Dipasarkan dengan harga Rp 125.000 per lembar,” kata Haryo Ambar.

Pada 2015, publik dihebohkan munculnya bunga amarilis. Masyarakat berdatangan. Karena jumlah pengunjung membludak, kebun bunga amarilis sebagian rusak terinjak-injak. Kerusakan tersebut menghebohkan netizen yang menjadi viral. (gun/iwa/ong)