JOGJA – Rasa kecewa dan malu masih menyelimuti seluruh warga kampus IST Akprind. Bagaimana tidak, salah seorang alumnusnya kini sedang jadi perbincangan banyak orang dan menghebohkan Indonesia. Dwi Hartanto, lulusan IST Akprind tahun 2005 ini sempat menggadang-gadang dirinya sebagai anak bangsa Indonesia di Belanda yang sukses menciptakan wahana mutakhir luar angkasa dan mengorbitkan satelit. Tak hanya itu, masih banyak kebohongan prestasi abal-abalnya yang ia ungkapkan ke publik.

“Ini tidak hanya mencoreng nama baik IST Akprind, tapi juga citra Indonesia, karena dia juga sedang menempuh pendidikan doktoral di Belanda. Kami ingin Dwi menebus kesalahannya, baik kepada kami sebagai almamaternya maupun kepada masyarakat,” ujar Rektor IST Akprind Amir Hamzah kepada wartawan di kampus setempat, kemarin (10/10).

Di hadapan awak media Amir juga menyampaikan keinginannya untuk meminta maaf kepada BJ Habibie atas kebohongan Dwi dan atas pemberitaan sebagai “The Next Habibie” setelah dirinya mengaku terlibat dalam sejumlah inovasi teknologi bidang dirgantara dan antariksa dengan memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan.

Sementara itu, Yuliana Rahmawati, dosen pembimbing skripsi Dwi Hartanto saat mengenyam pendidikan S1-nya di IST Akprind meminta agar Dwi dapat memperbaiki sikapnya, meminta maaf ke pihak kampus atas perbuatannya.

“Ini membuat kami terkoyak ya. Setelah banyak prestasi akademik yang ditorehkan mahasiswa kami beberapa tahun terakhir, kemudian jatuh begitu saja karena pemberitaan yang kurang menyenangkan dari alumnus kami,” ungkapnya.

Terkait kasus ini pihaknya juga akan melakukan evaluasi agar dapat terus menanamkan nilai moral dan kejujuran kepada mahasiswanya. Menurutnya, nilai akademik tinggi saja tak cukup membuat seseorang menjadi hebat tanpa dibarengi sikap dan budi yang baik.

Yuliana mengaku selama membimbing Dwi tidak menemukan kesulitan apa pun. Dwi merupakan mahasiswa yang cerdas, potensi akademiknya juga bagus.

Ketua Yayasan Pembina Potensi Pembangunan (YPPP) Sagoro Wedi yang turut hadir dalam kesempatan ini menyampaikan secara akademik lembaga tidak bisa menindaklanjuti kasus yang sedang dialami Dwi. Pasalnya, Dwi sudah berstatus sebagai alumni dan sudah diakui ijazahnya.

Dirinya hanya berharap Dwi dapat mengambil hikmah dari masalah tersebut dan berusaha memperbaiki citra Indonesia dan IST Akprind. “Kami berharap masyarakat, utamanya dunia pendidikan dapat memandang masalah ini dengan arif dan adil, serta dapat mengambil pelajaran dari kasus ini,” paparnya. (ita/laz/ong)