Tersisih dari Keraton, Disowani HB IX Jelang Naik Takhta

Sosok Pangeran Juminah tak pernah bisa dilepaskan dalam setiap diskusi tentang suksesi Keraton Ngayogyakarta. Putra Sultan Hamengku Buwono (HB) VII ini telah diangkat menjadi putra mahkota. Tapi, batal dinobatkan sebagai HB VIII.
KUSNO S.UTOMO, Jogja
Juminah diasingkan di Ndalem Buminatan. Jejak mantan putra mahkota kasultanan itu masih dapat terlacak. Kondisi rumah Juminah sampai sekarang masih utuh.Lokasinya di kompleks Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY).

Dulunya kompleks itu bernama Ndalem Mangkubumen. Ndalem Mangkubumen mengalami tiga kali perubahan nama.Di masa HB VI ditempati putra mahkota yang kemudian menjadi HB VII. Calon sultan itu akrab disapa dengan sebutan Pangeran Adipati Anom. Maka rumahnya disebut Ndalem Kadipaten.

Setelah Adipati Anom menjadi HB VII, ndalem itu dipakai adiknya, Pangeran Buminoto. Namanya berganti menjadi Ndalem Buminatan. Di era HB VIII digunakan pamannya, Pangeran Mangkubumi, sehingga berubah lagi menjadi Ndalem Mangkubumen.

Rumah Juminah persis di sisi timur Ndalem Ageng Mangkubumen. Meski dibangun pada 1834, bangunannya masih terawat. “Kondisinya masih sama seperti saat awal dibangun. Belum ada perubahan apapun,” ujar Aryo Dayoko, salah satu cucu buyut atau cicit Pangeran Juminah.

Dayoko yang berprofesi sebagai pelukis sejak beberapa tahun lalu menempati rumah itu. Dia dengan semangat menceritakan semua hal tentang eyang buyutnya tersebut.”Eyang Gusti kamarnya ada di sebelah kanan ini,” ucapnya menunjukkan kepada Irjen Pol (Purn) Haka Astana Mantika Widya yang siang itu bertandang untuk bersilaturahmi.

Mantan Asisten Sumber Daya Manusia (SDM) Kapolri dan pernah menjabat Kapolda DIJ itu napak tilas ke rumah leluhurnya pada akhir pekan lalu. Dayoko kemudian mengajak Haka masuk ke kamar yang digunakan Juminah. “Mana ruang semedi Eyang Gusti?” tanya Haka.

Status Haka dan Dayoko sama-sama cicit Juminah. Keturunan Juminah biasa menyapa dengan panggilan khas. Eyang Gusti. Sedangkan terhadap eyangnya atau anak Juminah, yakni Purwatmaja Atma Tjandra Sentana, para cucunya menyebut dengan sapaan Bapak Ageng.Tjandra Sentana memiliki sejumlah anak. Sebagian besar berprofesi sebagai seniman.

Anak sulungnya, Kuswadji Kawendrasusanto terkenal sebagai pelukis andal.Adiknya, Bagong Kussudiardja menjadi pelukis dan koreografer. Anak nomor tiga, Handung Kussudyarsana merupakan sastrawan dan pengelola grup Ketoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro.Bungsunya, Lilut Kussudyarta menjadi wartawan dan seniman teater. Dia satu angkatan dengan WS Rendra dan aktor film Koesno Sudjarwadi serta WD Mochtar. Lilut adalah ayah dari Haka. Sedangkan Dayoko merupakan anak Kuswadji.

Dari Bagong lahir Otok Bimasidharta, Butet Kertaradjasa, dan Djaduk Ferianto. Sedangkan Handung melahirkan Heru Kesawamurti, pemeran Pak Bina di Sinetron Bangun Desa TVRI Jogja.”Kami sedang merancang pertemuan trah Pangeran Juminah. Ngumpulke balung pisah,” ujar Haka yang di lingkungan keluarganya biasa dipanggil Mas Wid.Haka lebih banyak mendengarkan kisah-kisah Juminah yang disampaikan Dayoko. Cerita itu diperoleh dari penuturan ayahnya, Kuswadji.

Setelah urung menjadi HB VIII, Juminah tinggal di Ndalem Buminatan. Hari-harinya dihabiskan di rumah tersebut. Status Juminah seperti orang yang diasingkan. Itu gara-gara sikapnya yang berani melawan Belanda.Juminah menolak meneken kontrak politik. Sikap Juminah itu membuat Belanda meradang. Dia terancam diadili dan dibuang ke luar Jawa. Sebelum Belanda berbuat lebih jauh, ayahandanya, HB VII telah mengantisipasi.

Pangeran yang lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Pratistha itu diajukan ke Pradata Ageng, sebuah pengadilan yang khusus mengadili kerabat kasultanan yang melanggar aturan adat. Juminah divonis seolah-olah mengalami gangguan kejiwaan. Dia dianggap ewah alias pikirannya terganggu sehingga urung menjadi sultan.Kedudukan putra mahkota digantikan GRM Sudjadi. Adik kandungnya itu kemudian menjadi HB VIII. Pangeran Juminah rupanya panjang umur. Dia hidup hingga masa HB IX.

Dayoko punya cerita. Sebelum naik takhta pada 18 Maret 1940, HB IX sempat sowan menemui Juminah. Kepada pakdhe-nya, HB IX yang kala itu masih bernama GRM Dorodjatun mohon restu.”Saat itu HB IX oleh Eyang Gusti disuguhi teh hangat dan penganan ringan kroket. Satu kroket disuruh dibagi dengan ayah saya, Kuswadji. Maknanya apa, saya nggak tahu,” kenangnya.

Nasib trah Juminah pada akhirnya kurang beruntung. Anaknya seperti Tjandra Sentana hanya mendapatkan gelar raden bekel (RB). Sebuah gelar rendah seorang ningrat, anak calon sultan yang urung jumeneng (bertakhta). Keturunan Juminah juga sempat mengalami kesulitan ekonomi di awal 1970-an.

“Dulu kami biasa makan bulgur dari bekatul yang sesungguhnya buat makanan kuda. Itu gambaran betapa susahnya kehidupan kami,” lanjut Totok, adik Dayoko.Setali tiga uang, Haka punya kisah serupa. Jenderal bintang dua ini ditinggal ayahnya sejak usia 3 tahun. Dia kemudian ikut keluarga Bagong. Pakdhe-nya itu sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.”Dulu kalau menggoreng telur dibuat tipis-tipis agar bisa rata. Maklum jumlah keluarga kami banyak,” kenang Haka.

Meski pernah menjadi putra mahkota, saat meninggal Juminah tidak dimakamkan di kompleks Imogiri seperti kakaknya, GRM Akhadiyat, dan dua adiknya GRM Putro serta HB VIII.Juminah dikebumikan di Hastarengga, Kotagede. Kompleks makam kerabat Keraton Jogja yang dibangun HB VIII. Bangunan makamnya cukup sederhana. Di depannya ada tiga nisan ketiga istrinya, Raden Ayu (RAy) Murtiningrum, RAy. Hadiningrum, dan RAy. Sasmintaningrum. (yog/ong)