Naik Podium Bareng Sang Istri yang Juga Juara Dunia

Prestasi gemilang diraih Kolonel dr Elisa Manueke pada kejuaraan dunia Para Gliding Accuracy Word Cup (PGAWC) seri IV di Slovenia, September lalu. Elisa adalah dokter spesialis mata, sekaligus prajurit TNI AU yang berdinas di RSPAU Hardjolukito.

BAHANA, Sleman
Namanya memang tak asing di dunia olahraga dirgantara. Namun, Elisa mengaku cukup terkejut bisa menjadi juara dunia paralayang di nomor ketepatan mendarat di ajang PGAWC IV Slovenia. Elisa mengaku bukanlah atlet kebanyakan yang sehari-hari selalu bergelut dengan cabang olahraga paralayang.

“Saya ini penerbangweekend. Hanya bisa berlatih saat akhir pekan. Itu pun tidak rutin dalam sebulan,” beber Elisa di Ruang Pers Lanud Adisutjipto kemarin (2/10).

Didampingi Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Novyan Samyoga dan Kepala Rumah Sakit Pusat TNI AU (RSPAU) dr Hardjolukito Jogjakarta Marsma TNI AU Daradjat, bapak lima anak ini menuturkan pengalamannya selama mengikuti kejuaraan dunia tersebut.

Dengan kalimat merendah, Elisa mengaku perolehan nilainya jauh di bawah sesama atlet paralayang lain asal Indonesia yang ikut berlaga di PGAWC Slovenia. Apalagi dibandingkan atlet tuan rumah.

“Ini penantian saya setelah empat tahun di tengah persainganlokal pilotasal Slovenia yang secara kualitas cukup mendunia,” ujar perwira TNI dengan tiga melati di pundak.

Ada kisah unik sebelum dirinya berangkat ke Slovenia mengikuti ajang tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba Elisa ingin membawa baret biru yang selama ini menjadi kebanggaan atlet TNI AU. Padahal, hal itu tak pernah terlintas dibenaknya di tiga seri sebelumnya.

“Entah kenapa pada kejuaraan dunia kali ini dorongan untuk membawa baret biru itu besar sekali. Dan ternyata itu firasat baik,” jelas Elisa yang kini menjabat kepala departemen spesialis mata di rumah sakit tempat dia mengabdi.

Kejuaraan dunia itu diikuti 91 atlet dari 22 negara. Indonesia mengirimkan 18 atlet putra dan putri terbaik. Hasilnya pun di luar dugaan. Delegasi Indonesia mampu menyapu bersih semua nomor dan menjadi juara dunia. Baik kelas perseorang putra, putri, maupun bergeru.

Yang paling berkesan bagi Elisa saat itu karena dia berhasil naik podium bersama sang istri, Rika Wijayanti, yang juga menyabet gelar dunia untuk perseorangan puteri.

Olahraga aeromodeling memang tak sekadar hobi bagi Elisa. Dia menggelutinya sejak duduk di bangku SMA era 1980-1n. Berawal dengan gantole yang cukup populer kala itu.

“Di gantole Elisa saya dulu kerap juara di ajang kejurnas,” kenang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.

Prestasinya terus menanjak. Hingga pada 2007 Elisa berhasil mencatatkan namanya pada Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai penerbang yang membawa pita terpanjang. Pita itu sepanjang 1.386 meter. Di tahun yang sama dia juga merebut dua medali emas di Kejuaraan Trike dengan nomor navigasi ketepatan mendarat.

Kehebatan Elisa dalam berbagai kejuaraan olahraga dirgantara ternyata tak lepas dari profesinya sebagai dokter spesialis bedah mata. Dia tertuntut untuk sabar dan cermat dalam perhitungan dan mengambil tindakan. Demikian pula saat pertandingan paralayang.

Menurutnya, banyak atlet yang mudah terbawa emosi yakin bisa mendarat tepat pada lingkaran. Namun kenyataannya meleset. “Semua harus diperhitungkan secara jeli. Kapan harus segera mendarat atau membelokkan layang,”ungkapnya.

Selain diuntungkan oleh sikap sabarnya, latihan di dalam rumah saat cuaca buruk cukup membantu Elisa melatih insting ketepatan mendarat. Caranya, dia bergelayutan dengan tali untuk terjun pada titik kecil yang sudah disiapkan di bawah. “Ternyata cara ini sangat ampuh untuk melatih ketepatan,” katanya.

Menjadi juara dunia tak lantas membuat Elisa jumawa. Kini dia tengah menyiapkan diri di ajang ASIAN Games 2018. Sebagai tuan rumah, dia bertekad membawa Indonesia merajai cabang olahraga paralayang. Atlet asal Korea Utara, Jepang, dan Thailand diakuinya sebagai lawan berat. Kendati demikian, Elisa optimistis mampu meraih juara bersama atlet nasional lainnya.

Gayung bersambut dorongan semangat dari Marsma Daradjat. Perwira tinggi TNI AU ini bangga dengan prestasi yang diraih anggotanya. “Dokter Elisa adalah sosok sangat berprestasi. Di RSPAU Hardjolukito pun demikian. Dia selalu memberikan yang terbaik,” pujinya.

Demikian pula yang disampaikan Marsma Novyan Samyoga. Baginya, tak ada kata lain selain terus mendorong prajuritnya untuk mengejar prestasi. Dia pun membuka ruang dan izin seluas-luasnya bagi Elisa untuk menjalani pelatnas ASIAN Games yang telah dijalani sejak Februari lalu. Sebenarnya bukan hanya paralayang. Prajurit kami di Jupiter Aerobatic Team juga kerap meninggalkan tugas sebagai instruktur untuk mengharumkan nama bangsa,” ujarnya.(yog/ong)