JOGJA- “Ya jangan hanya kota-kota biru, lagipula stok kan tidak harus mereka bawa semua. Prinsipnya mereka bisa jualan, ya kita cari jalan keluar bagiaman menata PKL-nya,”ujarnya yang menegaskan tidak akan menghilangkan PKL dari Malioboro.

Dikatakan, Malioboro tidak bisa dipisahka dari PKL. Sebab, PKL merupakan kekuatan dan menjadi daya pemikat wisatawan untuk datang.

“Kalau bisa nanti dipindah di bekas Bioskop Indera, nanti itu kan jadi tingkat tiga. Mereka tetap bisa jualan disitu,”ujarnya.
Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM) Sukidi mengakui, butuh momen-momen seperti ini dimana para pedagang bersama-sama membersihan dan melakukan perawatan Malioboro. Meskipun harus satu hari libur, yang artinya pendapatan mereka berkurang. Rata-rata, para pedagang lesehan yang menjual aneka kuliner ini bisa meraup antara Rp 1-2 juta per harinya.

“Ya ini kan sudah kesepatan bersama, sebenarnya ini juga sudah program lama namun baru bisa direalisasikan sekarang,”ujarnya.

Di sepanjang Malioboro setidaknya ada ada 21 paguyuban, termasuk yang non PKL, seperti becak dan andong yang keseharian berkegiatan. Di bawah naungan PPLM sendiri, ada 70 pedagang lesehan dan juga angkringan.(pra/yog/ong)