Masih di Mess PSIM, Tunggu Kepastian dari Manajemen

Rangga Muslim dan Said Marjan memang diminati Persebaya Surabaya. Ada yang menyebut keduanya bahkan sudah berada di Kota Pahlawan, sehingga beberapa hari tidak ikut dalam latihan tim PSIM Jogja. Betulkah kabar itu ?
RIZAL SETYO NUGROHO, Jogja
Wartawan Radar Jogja menemui keduanya di Mess PSIM Jogja, di Baciro, kemarin sore (26/9). Keduanya masih menghuni kamar di lantai dua sayap timur. “Tidak betul kalau kami disebut kabur. Kami masih di mess. Barang-barang kami masih ada di sini semua,” ujar Rangga menanggapi kabar yang beredar di media sosial.

Dia mengaku masih menghormati kontrak bersama PSIM Jogja. Sehingga tidak meninggalkan mess sampai ada kejelasan nasib mereka. Hal itu menurutnya sebagai bentuk kewajiban pemain profesional.

Disinggung mengenai rumor transfer kepindahannya, dia tidak membantah jika memang ingin bermain di Surabaya. Sebagai pemain profesional, tidak bisa dipungkiri pilihan karir di Persebaya tentu lebih baik dibanding di PSIM Jogja. “Bukannya di PSIM tidak bisa berkarir. Tapi Persebaya lolos 16 besar. Dan kami berpeluang belajar lebih banyak di sana,” ungkapnya.

Namun, pihak manajemen PSIM Jogja menahan keduanya untuk hengkang dari Jalan Baciro, markas PSIM. Nah, alasan tersebut yang sampai saat ini belum disampaikan langsung kepada keduanya. “Belum bisaketemu langsung. Kami hanya mendengar di media,” kata Rangga.

Said Marjan mengatakan, Rabu pekan lalu keduanya berencana akan dipanggil manajemen. Namun ternyata urung terlaksana. Sehingga sampai saat ini, mereka masih menunggu sampai bisa bertemu langsung dengan pihak manajemen. “Karena kami sebetulnya ingin ketemu dan bicara seperti apa baiknya. Tidak hanya lewat telepon. Kami paham jika mungkin manajemen masih sibuk karena mempersiapkan playoff. Jadi sementara kami menunggu kepastian,” ujar Said.

Namun kabar bahwa keduanya indisipliner dan mangkir dari latihan dinilai memojokkan mereka. Mereka mengakui jika tidak mengikuti latihan dalam beberapa hari terakhir. Meskipun demikian, keduanya tidak kabur dan masih tetap berada di mess pemain. “Kami tidak mau salah satu pihak ada yang disalahkan atau menyalahkan. Kami tidak latihan betul. Tapi kami di mess. Kami menunggu untuk bisa bertemu manajemen,” ungkap Said yang bergabung di PSIM sejak 2016 lalu.

Menurut Rangga, setidaknya ada komunikasi yang baik antara pemain dan manajemen. Namun ternyata di media keduanya disebut indisipliner dan akan disanksi. “Itu hak mereka, kami akui memang tidak latihan. Tapi setidaknya ada komunikasi. Termasuk jika nantinya jadi pindah atau tidak, kami ingin bertemu dengan pihak klub,” ungkap pemain bernomor punggung 15 itu.

Disinggung mengenai alasannya ingin bergabung ke Persebaya, Said mengatakan sebagai pemain ingin menargetkan juara. Sebagai tujuan dari kerja keras dan latihan ingin bisa sampai di final. “Kami akui ini pilihan berat. Sebab di sisi lain PSIM butuh kami di playoff. Tapi sebagai pemain bola siapa yang tidak ingin jadi juara dan berprestasi,” jawabnya.

Mengenai persepsi orang dan kabar di media sosial dia tidak terlalu ambil hati. Sebab kondisi yang sebenarnya dia sendiri yang merasakan. Termasuk dengan masih tinggal di mess PSIM Jogja, juga untuk menjaga persepsi orang bahwa keduanya tidak lagi loyal. “Bagaimanapun kami harus berterimakasih dengan PSIM. Kami diberi tempat, diberi pengalaman bermain yang berharga dengan karier kami. Ini pilihan berat sekali,” ujarnya.

Jawaban senada diutarakan Rangga. Keadaan di PSIM Jogja memang belum bisa untuk target juara. Selain bermain bola, dia juga ingin memikirikan karir ke depan seperti apa. Sementara saat ini ada peluang untuk berkarir lebih baik.

Menurut mereka, ini memang pilihan yang berat. Keduanya juga ingin membanggakan orang tua. Di sisi lain suporter PSIM juga luar biasa. Tapi, manajemen nyatanya juga belum memberikan kejelasan. “Sehingga kalau dipaksa latihanpun kami belum bisa fokus. Intinya saat ini kami ingin bertemu dengan manajemen dulu,” terangnya. (din/ong)